CARA KERJA HERMENEUTIKA

Monday, March 21, 2016 Labels:

Pada intinya hermeneutika memiliki berbagai macam metodologi dalam perjalanannya sebagai disiplin ilmu penafsiran, meski demikian dalam tulisan ini penulis hanya akan fokus membahas dua macam cara kerja hermeneutis sebagaimana yang diungkapkan oleh Mudja Raharjo yaitu hermeneutika intensional ala Hirsch dan hermeneutikan efektual ala Gadamer.[1]

Hermeneutika Intensional merupakan turunan dari hermeneutika romantis Schleirmacher dan Wilhelm Dilthey yang berpandangan bahwa mode kerangka kerja hermeneutika jenis ini ialah menemukan makna asli yang dikehendaki pengarang. Sementara dalam pandangan hermeneutika efektual menurut Gadamer bahwa sebuah teks tidak sementinya dicari makna yang diletakkan oleh pengarang di dalamnya, sebab itu sama dengan memenjarakan makna teks, sejatinya bahwa teks harus tetap terbuka bagi adanya penafsiran baru sesuai dengan kreativitas sang penafsir teks itu sendiri.[2] Asusmi Gadamer ini diperkuat oleh Paul Ricoeur bahwa pembaca pada intinya tidak terlibat dalam tindakan penulis dalam tulisannya dan penulis pun tidak terlibat dalam pembacaan para pembaca.[3] Dengan demikian, teks pada intinya telah mengganti hubungan dialog langsung antara penggagas (pengarang) dengan penafsir (pembaca teks), kenyataan ini pula yang memungkinkan bagi lahirnya interpretasi teks yang berbeda antara pengarang (sumber teks) dengan penafsir (pembaca teks).  
Pandangan Gadamer tentang teks juga diperkuat oleh Von Homboldt bahwa teks (bahasa) adalah sarana terbatas dengan keguanaan tak terbatas. Maka dari itu teks (bahasa) harus dipahami sebagai wujud yang mampu berkembang biak secara tak terbatas dengan menggunakan elemen-elemen yang terbatas (fakta yang teramati).[4] Seirama dengan pandangan paradigma kritis bahwa manusia dalam memahami teks harus menyelam ke dalam teks agar ia mampu menyingkap makna yang terkandung dibaliknya.[5] Pernyataan ini mempertegas asumsi sebelumnya bahwa dalam pandangan hermeneutika efektual, bahasa (teks) tidak boleh dibingkai hanya pada pengertian sebagaimana yang dimaksudkan pengarang, melainkan ia harus terbuka untuk menerima arus interpretasi dari setiap pembaca dan penerima teks itu sendiri.
Dari kedua tawaran metodis hermeneutika tersebut penulis dapat menangkap pesan bahwa :
1.      Pandangan Hermeneutika intensional lebih menekankan pemaknaan hanya pada maksud yang dikehendaki oleh pengarang (sumber teks itu sendiri), hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya anomali makna antara kedaunya (pengarang dan penafsir).
2.      Pandangan Hermeneutika efektual lebih menekankan pada kebebasan penafsir dalam mengelaboris makna teks yang diterima sehingga memungkinkan lahirnya pemaknaan baru yang bisa jadi berbeda dengan kehendak sang pegnarang (sumber teks itu sendiri).


[1] Mudjia Raharjo, Dasar-Dasar Hermeneutika, antara Internasionalisme dan Gadamerian, (Cet. I; Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2008), h. 89.
[2] Ibid., h. 90.
[3] Paul Ricoeur, Hermeneutics and the Human Sciences, Essays on language, Action an Interpretation. terj. Muhammad Syukri, Hermeneutika Ilmu Sosial, (Cet. III; Bantul : Kreasi Wacana, 2009), h. 197.
[4] Inyiak Ridwan Muzir, Hermeneutika Filosofis Hans Georg Gadamer, (Cet. II; Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2010), h. 193.
[5] Eriyanto, Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, (Cet. VII; Yogyakarta : LKIS, 2009), h. 61.

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone