Pada intinya
hermeneutika memiliki berbagai macam metodologi dalam perjalanannya sebagai
disiplin ilmu penafsiran, meski demikian dalam tulisan ini penulis hanya akan
fokus membahas dua macam cara kerja hermeneutis sebagaimana yang diungkapkan
oleh Mudja Raharjo yaitu hermeneutika intensional ala Hirsch dan hermeneutikan
efektual ala Gadamer.[1]
Hermeneutika
Intensional merupakan turunan dari hermeneutika romantis Schleirmacher dan Wilhelm
Dilthey yang berpandangan bahwa mode kerangka kerja hermeneutika jenis ini
ialah menemukan makna asli yang dikehendaki pengarang. Sementara dalam
pandangan hermeneutika efektual menurut Gadamer bahwa sebuah teks tidak
sementinya dicari makna yang diletakkan oleh pengarang di dalamnya, sebab itu
sama dengan memenjarakan makna teks, sejatinya bahwa teks harus tetap terbuka
bagi adanya penafsiran baru sesuai dengan kreativitas sang penafsir teks itu
sendiri.[2]
Asusmi Gadamer ini diperkuat oleh Paul Ricoeur bahwa pembaca pada intinya tidak
terlibat dalam tindakan penulis dalam tulisannya dan penulis pun tidak terlibat
dalam pembacaan para pembaca.[3]
Dengan demikian, teks pada intinya telah mengganti hubungan dialog langsung
antara penggagas (pengarang) dengan penafsir (pembaca teks), kenyataan ini pula
yang memungkinkan bagi lahirnya interpretasi teks yang berbeda antara pengarang
(sumber teks) dengan penafsir (pembaca teks).
Pandangan
Gadamer tentang teks juga diperkuat oleh Von Homboldt bahwa teks (bahasa)
adalah sarana terbatas dengan keguanaan tak terbatas. Maka dari itu teks
(bahasa) harus dipahami sebagai wujud yang mampu berkembang biak secara tak
terbatas dengan menggunakan elemen-elemen yang terbatas (fakta yang teramati).[4]
Seirama dengan pandangan paradigma kritis bahwa manusia dalam memahami teks
harus menyelam ke dalam teks agar ia mampu menyingkap makna yang terkandung
dibaliknya.[5]
Pernyataan ini mempertegas asumsi sebelumnya bahwa dalam pandangan hermeneutika
efektual, bahasa (teks) tidak boleh dibingkai hanya pada pengertian sebagaimana
yang dimaksudkan pengarang, melainkan ia harus terbuka untuk menerima arus
interpretasi dari setiap pembaca dan penerima teks itu sendiri.
Dari
kedua tawaran metodis hermeneutika tersebut penulis
dapat menangkap pesan bahwa :
1. Pandangan
Hermeneutika intensional lebih menekankan pemaknaan hanya pada maksud yang
dikehendaki oleh pengarang (sumber teks itu sendiri), hal ini dimaksudkan untuk
menghindari terjadinya anomali makna antara kedaunya (pengarang dan penafsir).
2. Pandangan
Hermeneutika efektual lebih menekankan pada kebebasan penafsir dalam
mengelaboris makna teks yang diterima sehingga memungkinkan lahirnya pemaknaan
baru yang bisa jadi berbeda dengan kehendak sang pegnarang (sumber teks itu
sendiri).
[1] Mudjia Raharjo, Dasar-Dasar
Hermeneutika, antara Internasionalisme dan Gadamerian, (Cet. I; Jogjakarta
: Ar-Ruzz Media, 2008), h. 89.
[2] Ibid., h. 90.
[3] Paul Ricoeur, Hermeneutics
and the Human Sciences, Essays on language, Action an Interpretation. terj.
Muhammad Syukri, Hermeneutika Ilmu
Sosial, (Cet. III; Bantul : Kreasi Wacana, 2009), h. 197.
[4] Inyiak Ridwan Muzir, Hermeneutika
Filosofis Hans Georg Gadamer, (Cet. II; Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2010),
h. 193.
[5] Eriyanto, Analisis
Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, (Cet. VII; Yogyakarta : LKIS, 2009),
h. 61.
0 comments:
Post a Comment