Teringat sepenggal
pesan sahabat “sesulit apapun keadaan yang kita hadapi hari ini, kelak akan
menjadi sebuah cerita biasa, dan bahkan guyonan”.
Siapapaun kita, apapun latar belakang kehidupan kita, pasti suatu masa pernah merasa terpuruk, atau bahkan lebih sadisnya ialah mengutuk keadaan. Kenyataan ini terjadi disaat kita merasa ada hal yang tidak sepatutnya kita dapat tapi malah itu yang hadir. Dalam bahasa "akademiknya" yah ini yang kemudian disebut problem (adanya perbedaan antara cita-cita atau harapan dengan kenyataan yang menimpa).
Jika demikian, lantas pernahkah kita berpikir atau paling tidak merenung sejenak, mempertanyakan atau merefleksi kenyataan itu? Mengapa harus ini yang terjadi, mengapa harus aku, mengapa bukan mereka? dan berbagai kalimat sangsi lainnya.
Yang pasti bahwa, keadaan tersebut telah atau bahkan sedang kita lalui. Kehadirannya jelas lepas dari konstruk alam bawa sadar kita. Inilah "keterbatasan" kita, atau bisa jadi kelemahan yang selama ini tertutupi karena kita buta dan selalu menggap diri kita hebat dan kuat.
Ah biasa saja!!! semua hal yang pernah atau sementara kita "anggap" sebagai masalah, toh akan lebih mendewasakan kita "semoga". Sejatinya hal itu tetap dianggap sebagai sebuah fakultas yang lepas dari intaian formal akademis. Mengapa ia sulit, berat, atau mungkin terbawa mimpi buruk? Lagi-lagi karena ada sisi pada diri kita yang merasa tidak puas dengan kenyataan itu. Entah itu jiwa, akal, atau mungkin nafsu kita.
Seiring dengan laju pergerakan waktu, hal yang tadinya dianggap berat tersebut perlahan pulih dan normal kembali. Apakah ada keterlibatan konstruksi kesadaran kita dalam prosesnya? bisa jadi. Tapi yang pasti bahwa, dalam putaran waktu kehidupan, kita lebih banyak memandang keluar ketimbang melihat ke dalam.
wallahu 'alam bisshawab.
0 comments:
Post a Comment