Saat pertama kali
mengenalmu, aku berdecak kagum. Dari mulut yang selalu terkepul asap, kau
bercerita tentang idealisme, dengan bumbuh retoris yang memikat, kau titahkan
argumen-argumen filosofis begitu indah. Kau urai banyak tokoh dengan buah pikirannya,
kau ungkap proses perjuangan dan perlawanan yang mereka lalui.
Kunyalakan korek apiku,
kau berhenti sejanak, memberiku jedah untuk turut menikmati sebatang rokok yang
dari tadi tertahan di selah jemariku. Kau melanjutkan cerita tentang dua warna.
Warna yang kau akui sebagai platform gerakanmu. Wujud pengakuan atas tokoh dan
teorinya yang telah kau lahap. Sungguh memikat!!!
Selang beberapa waktu
kemudian, aku mantapkan keyakinanku. Kuingin menapaki jejak itu, merasakan
sensai yang sama, sebagaimana yang engkau dendangkan.
Aku turut melewati
rangkain proses demi proses. Disana aku menemukan fakta yang tak jauh berbeda dari apa
yang kau dendangkan kepadaku sebelumnya. Satu persatu dari para
pewarismu tampil di permukaan. Melenggang perkasa bersama tumpukan-tumpukan
refrensi yang telah diselami. Beragam dimensi ditampilkan, dari
keorganisasian hingga keummatan. Semua terkemas rapi, runut dan “menggetarkan”.
Yah, menggetarkan. Hal yang
sebelumnya aku anggap “sakral”, warisan dari sang ayah yang “mungkin” di alam
sana resah melihat putranya. Terjamah dengan dalil-dalil sistemik, hanyut dalam
arus argumentasi yang dicipta. Brainstorimng, demikian ungkapan berjamaah yang
diamini. Tak tehenti sampai disitu, para sesepuh itu pun tak ingin melihat kami
terluntah, tanpa arah, dan krisis identitas. Mereka lalu mengisi kami dengan beragam
teori “baru” sebagai peneguh.
Fase itu tak berjalan
lama, berganti rupa jadi mitra. Meretas ego individu, lalu melebur dalam satu
rumpun keluarga. Dari rumah besar itu kita berdialektika, saling mensublimasi ide-gagasan
satu sama lain. Di bawah kibaran bendera kebesaran, sesekali kita turun ke
jalan, memekik lantang semangat perlawanan, pada rezim yang dianggap zolim. Mengkritik
kebijakan yang dianggap tidak tepat sasaran.
Lama terlena dalam
belain mesrah sesepuhku di rumah itu. Identitas yang kucari pun tak jua teguh. Nuraniku
beranjak jauh, jiwa-batinku pun terus merindu. Aku perlahan melangkah, melambaikan
tangan untuknya. Pertemuan kita serasa cukup sampai disini. Aku ingin memlih
hamparan hijau yang membentang luas. Menjejaki lorong waktu yang tersisah, menyusuri
jalan iblis yang "hitam" dan dicercah.
Biarlah proses ini terlewati,
hingga kelak masanya tiba, dimana aku tak lagi peduli dengan lawan
ataupun kawan, kalah atau menang, dipuja atau dihina. Aku merindukan dunia baru,
dunia tanpa kebencian, intrik, dan kepura-puraan. Aku mendambakan rumah baru,
rumah yang kokoh, rumah yang menghimpun siapapun, tanpa mengenal kasta, ras,
suku, agama, dan budaya. Rumah yang setiap jendelanya mengantarkan agin kedamaian, rumah yang setiap pentilasinya memantulkan pandangan kesetaraan.
Bertahun sudah kita tak
bertemu, aku hanya bisa mengintipmu dari jauh, lewat tulisan-tulisan yang berserak
dimana-mana. Tulisan yang banyak bercerita tentang dukamu. Apa kabarmu sekarang kisanak? Semoga kau semakin dewasa seiring
dengan usiamu yang semakin menua.
Salam
merah-putih-kuning-hijau (bukan pelangi)
2 comments:
Ideologi baru, dengan fase yg baru Ka'. Meski banyak warna yg merasuk tp bkn berarti ia pelangi, meski kita telah terasing oleh barisan kata, tp bukan berarti kita tanpa ikatan yg tak bermakna. Tks Ideologi barunya Ka'.
Ideologi baru, dengan fase yg baru Ka'. Meski banyak warna yg merasuk tp bkn berarti ia pelangi, meski kita telah terasing oleh barisan kata, tp bukan berarti kita tanpa ikatan yg tak bermakna. Tks Ideologi barunya Ka'.
Post a Comment