Pencarian Identitas

Tuesday, May 10, 2016 Labels:



https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTQLdG4chcOWPWqj0mxc7AGfxdpW8MSc2OKkmW_A_0JlW8bG0bT1Q


Saat pertama kali mengenalmu, aku berdecak kagum. Dari mulut yang selalu terkepul asap, kau bercerita tentang idealisme, dengan bumbuh retoris yang memikat, kau titahkan argumen-argumen filosofis begitu indah. Kau urai banyak tokoh dengan buah pikirannya, kau ungkap proses perjuangan dan perlawanan yang mereka lalui.

Kunyalakan korek apiku, kau berhenti sejanak, memberiku jedah untuk turut menikmati sebatang rokok yang dari tadi tertahan di selah jemariku. Kau melanjutkan cerita tentang dua warna. Warna yang kau akui sebagai platform gerakanmu. Wujud pengakuan atas tokoh dan teorinya yang telah kau lahap. Sungguh memikat!!!

Selang beberapa waktu kemudian, aku mantapkan keyakinanku. Kuingin menapaki jejak itu, merasakan sensai yang sama, sebagaimana yang engkau dendangkan.

Aku turut melewati rangkain proses demi proses. Disana aku menemukan fakta yang tak jauh berbeda dari apa yang kau dendangkan kepadaku sebelumnya. Satu persatu dari para pewarismu tampil di permukaan. Melenggang perkasa bersama tumpukan-tumpukan refrensi yang telah diselami. Beragam dimensi ditampilkan, dari keorganisasian hingga keummatan. Semua terkemas rapi, runut dan “menggetarkan”.

Yah, menggetarkan. Hal yang sebelumnya aku anggap “sakral”, warisan dari sang ayah yang “mungkin” di alam sana resah melihat putranya. Terjamah dengan dalil-dalil sistemik, hanyut dalam arus argumentasi yang dicipta. Brainstorimng, demikian ungkapan berjamaah yang diamini. Tak tehenti sampai disitu, para sesepuh itu pun tak ingin melihat kami terluntah, tanpa arah, dan krisis identitas. Mereka lalu mengisi kami dengan beragam teori “baru” sebagai peneguh.

Fase itu tak berjalan lama, berganti rupa jadi mitra. Meretas ego individu, lalu melebur dalam satu rumpun keluarga. Dari rumah besar itu kita berdialektika, saling mensublimasi ide-gagasan satu sama lain. Di bawah kibaran bendera kebesaran, sesekali kita turun ke jalan, memekik lantang semangat perlawanan, pada rezim yang dianggap zolim. Mengkritik kebijakan yang dianggap tidak tepat sasaran.

Lama terlena dalam belain mesrah sesepuhku di rumah itu. Identitas yang kucari pun tak jua teguh. Nuraniku beranjak jauh, jiwa-batinku pun terus merindu. Aku perlahan melangkah, melambaikan tangan untuknya. Pertemuan kita serasa cukup sampai disini. Aku ingin memlih hamparan hijau yang membentang luas. Menjejaki lorong waktu yang tersisah, menyusuri jalan iblis yang "hitam" dan dicercah. 

Biarlah proses ini terlewati, hingga kelak masanya tiba, dimana aku tak lagi peduli dengan lawan ataupun kawan, kalah atau menang, dipuja atau dihina. Aku merindukan dunia baru, dunia tanpa kebencian, intrik, dan kepura-puraan. Aku mendambakan rumah baru, rumah yang kokoh, rumah yang menghimpun siapapun, tanpa mengenal kasta, ras, suku, agama, dan budaya.  Rumah yang setiap jendelanya mengantarkan agin kedamaian, rumah yang setiap pentilasinya memantulkan pandangan kesetaraan.

Bertahun sudah kita tak bertemu, aku hanya bisa mengintipmu dari jauh, lewat tulisan-tulisan yang berserak dimana-mana. Tulisan yang banyak bercerita tentang dukamu. Apa kabarmu sekarang kisanak? Semoga kau semakin dewasa seiring dengan usiamu yang semakin menua. 

Salam merah-putih-kuning-hijau (bukan pelangi)   

2 comments:

Unknown said...

Ideologi baru, dengan fase yg baru Ka'. Meski banyak warna yg merasuk tp bkn berarti ia pelangi, meski kita telah terasing oleh barisan kata, tp bukan berarti kita tanpa ikatan yg tak bermakna. Tks Ideologi barunya Ka'.

Unknown said...

Ideologi baru, dengan fase yg baru Ka'. Meski banyak warna yg merasuk tp bkn berarti ia pelangi, meski kita telah terasing oleh barisan kata, tp bukan berarti kita tanpa ikatan yg tak bermakna. Tks Ideologi barunya Ka'.

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone