REMAJA MASJID “HARAPAN DAN TANTANGAN”

Sunday, March 13, 2016 Labels:



Zaman moderen merupakan zaman peralihan tatanan hidup dari mode tradisional ke moderen. Peralihan yang dimaksudkan berupa peralihan pola pikir hingga pola perilaku praktis dengan standar penilaian tertentu yang dikemas ke dalam sebuah faham yang disebut dengan “modernisme”.

Secara singkat, sejarah lahirnya faham ini berawal dari proses perlawanan sekelompok kaum inelektual atas dominasi kaum gerejawan yang diklaim memonopoli kebenaran (penafsir tunggal kebenaran). Oleh mereka, zaman tersebut dihukumi sebagai zaman kegelapan atau zaman kejumudan berpikir. Demi kebebasan, maka manusia harus dibebaskan dari doktrin-doktrin agama tersebut lewat sains. Kenyataan inilah yang mengispirasi lahirnya renaissance (bangkitnya ilmu pengetahuan) pada abad pertengahan (abad 14-an hingga abad 16-an). Persemaian pemikiran ini berlangsung sengit di Italia, terutama di wilayah Florence, selanjutnya menyebar ke Eropa, dan kelak menjadi cikal bakal lahirnya modernisasi tahap pertama.
Renaissance dari sisi makna, merujuk pada sebuah momentum dimana akal manusia (rasio) menjadi pendorong kebudayaan setelah sebelumnya ditenggelamkan oleh dogma-dogma agama. Akal manusia diyakini sebagai wahana yang sangat luar biasa untuk membangun peradaban manusia. Kenyataan ini tentunya membuka ruang lebar bagi bangkitnya filsafat antroposentris (manusia sebagai pusat eksistensi/keberadaan). Manusia harus bebas dan merdeka untuk mengelolah alam secara otonomi (mandiri) tampa tekanan dan bayang-bayang agama.
Perkembangan faham ini disatu sisi tentunya membawa angin segar bagi peradaban manusia. Terbukti dengan terbukanya keran kebebasan tersebut menyebabkan berkembangnya sains dan teknologi yang saat ini terbuka “fulgar” di hadapan kita. Akan tetapi, disisi lain perkembangan faham ini kian mempersempit ruang-ruang agama. Faktanya sangat jelas, secara kasat mata kita bisa melihat fenomena kehidupan hari ini. Panggilan discount mal-mal dan tempat-tempat perbelanjaan jauh lebih memikat dibanding seruan-seruan suci dari masjid. Menenteng tab (tablet) dianggap jauh lebih elegan ketimbang memboyong kitab. Bernyanyi lebih digandrungi ketimbang mengaji.
Walhasil, sentuhan-sentuhan agama kemudian perlahan terlokalisasi, urusan agama terkesan jadi urusan masjid, sedangkan urusan dunia terkesan tak ada hubungannya dengan masjid. Barangkali dengan kesadaran inipulalah yang membawa Kuntowijoyo untuk memberi seruan “back to moscoe” (kembali ke masjid). Sudah selayaknya fungsi masjid kembali dimaksimalkan. Masjid harus dikembalikan ke hittahnya sebagai tempat sujud. Yakni tempat yang digunakan untuk menundukkan ego individual (pribadi). Dari sisi teks, masjid memang disepakati sebagai sebuah bangunan tempat sujud (konstruksi). Tapi dari sisi konteks, masjid harus dipandang lebih luas, yakni setiap tempat yang dipergunakan untuk menundukkan ego-ego kita. Entah itu di kantor, di sekolah, di rumah, di masyarakat, dan lain-lain. Dengan pemahaman seperti ini, fungsi dan peran Remaja Masjid tentunya jauh lebih luas dan lebih menantang ketimbang membatasi kemampuan hanya pada acara-acara ritual kegamaan tertentu.
Remaja Masjid sejatinya menjadi lokomotif perubahan dalam berbagai segmen (bidang) kehidupan. Layaknya namanya “Remaja” seharusnya remaja masjid terus berupaya untuk meremajakan kemampuan-kemampuan dirinya agar dapat menjadi cerminan bagi yang lain. Dengan pola seperti ini maka Remaja Masjid akan memandang “mol” sekalipun sebagai tempat ibadah.
Wallahu wa’lam bisshawab.

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone