Zaman
moderen merupakan zaman peralihan tatanan hidup dari mode tradisional ke
moderen. Peralihan yang dimaksudkan berupa peralihan pola pikir hingga pola
perilaku praktis dengan standar penilaian tertentu yang dikemas ke dalam sebuah
faham yang disebut dengan “modernisme”.
Secara
singkat, sejarah lahirnya faham ini berawal dari proses perlawanan sekelompok
kaum inelektual atas dominasi kaum gerejawan yang diklaim memonopoli kebenaran (penafsir
tunggal kebenaran). Oleh mereka, zaman tersebut dihukumi sebagai zaman kegelapan
atau zaman kejumudan berpikir. Demi kebebasan, maka manusia harus dibebaskan
dari doktrin-doktrin agama tersebut lewat sains. Kenyataan inilah yang
mengispirasi lahirnya renaissance (bangkitnya ilmu pengetahuan) pada abad
pertengahan (abad 14-an hingga abad 16-an). Persemaian pemikiran ini
berlangsung sengit di Italia, terutama di wilayah Florence, selanjutnya
menyebar ke Eropa, dan kelak menjadi cikal bakal lahirnya modernisasi tahap
pertama.
Renaissance
dari sisi makna, merujuk pada sebuah momentum dimana akal manusia (rasio)
menjadi pendorong kebudayaan setelah sebelumnya ditenggelamkan oleh dogma-dogma
agama. Akal manusia diyakini sebagai wahana yang sangat luar biasa untuk
membangun peradaban manusia. Kenyataan ini tentunya membuka ruang lebar bagi
bangkitnya filsafat antroposentris (manusia sebagai pusat
eksistensi/keberadaan). Manusia harus bebas dan merdeka untuk mengelolah alam
secara otonomi (mandiri) tampa tekanan dan bayang-bayang agama.
Perkembangan
faham ini disatu sisi tentunya membawa angin segar bagi peradaban manusia. Terbukti
dengan terbukanya keran kebebasan tersebut menyebabkan berkembangnya sains dan
teknologi yang saat ini terbuka “fulgar” di hadapan kita. Akan tetapi, disisi
lain perkembangan faham ini kian mempersempit ruang-ruang agama. Faktanya sangat
jelas, secara kasat mata kita bisa melihat fenomena kehidupan hari ini. Panggilan
discount mal-mal dan tempat-tempat perbelanjaan jauh lebih memikat dibanding
seruan-seruan suci dari masjid. Menenteng tab (tablet) dianggap jauh lebih
elegan ketimbang memboyong kitab. Bernyanyi lebih digandrungi ketimbang
mengaji.
Walhasil,
sentuhan-sentuhan agama kemudian perlahan terlokalisasi, urusan agama terkesan
jadi urusan masjid, sedangkan urusan dunia terkesan tak ada hubungannya dengan
masjid. Barangkali dengan kesadaran inipulalah yang membawa Kuntowijoyo untuk
memberi seruan “back to moscoe” (kembali ke masjid). Sudah selayaknya fungsi
masjid kembali dimaksimalkan. Masjid harus dikembalikan ke hittahnya sebagai
tempat sujud. Yakni tempat yang digunakan untuk menundukkan ego individual (pribadi).
Dari sisi teks, masjid memang disepakati sebagai sebuah bangunan tempat sujud
(konstruksi). Tapi dari sisi konteks, masjid harus dipandang lebih luas, yakni
setiap tempat yang dipergunakan untuk menundukkan ego-ego kita. Entah itu di
kantor, di sekolah, di rumah, di masyarakat, dan lain-lain. Dengan pemahaman
seperti ini, fungsi dan peran Remaja Masjid tentunya jauh lebih luas dan lebih
menantang ketimbang membatasi kemampuan hanya pada acara-acara ritual kegamaan
tertentu.
Remaja
Masjid sejatinya menjadi lokomotif perubahan dalam berbagai segmen (bidang) kehidupan.
Layaknya namanya “Remaja” seharusnya remaja masjid terus berupaya untuk
meremajakan kemampuan-kemampuan dirinya agar dapat menjadi cerminan bagi yang
lain. Dengan pola seperti ini maka Remaja Masjid akan memandang “mol” sekalipun
sebagai tempat ibadah.
Wallahu wa’lam bisshawab.
0 comments:
Post a Comment