Benih Cinta di Dapur Salemba

Saturday, March 19, 2016 Labels:



Cuaca malam ini sangat bersahabat, suasananya terasa sangat adem. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, jika malam tiba gerah pasti ikut menyerta. Setidaknya demikian yang sering kami rasa in the kost “Lorong 1 Salemba”.

Suasana ini membuat aku bertanya-tanya, dan bisa jadi demikian halnya bagi teman-temanku yang lain. Lo’, gimana perasaan kamu mengenai cuaca malam ini? Tanyaku pada seorang sahabat yang dari tadi asyik bercengkrama dengan BB nya. Seketika ia berbalik dan berkata “asyik”, tidak seperti malam-malam kemarin “panas”. Oh rupanya bukan hanya aku yang merasakan hal itu. Gumamku dalam hati.

Yah mungkin karena malam ini “ada sesuatu”. Lanjutnya. 

Aku haya senyum sumringah mendengar tambahan jawabannya.

Kubiarkan waktu berlalu sejenak, kunikmati sisah rokok di tanganku yang sebentar lagi habis. Malam ini benar-benar aneh. Ditambah lagi dengan keadaan yang tidak sebagaimana biasanya, berkumpul bersama, berdiskusi, atau hanya sekedar saling mengerjai satu sama lain. Saat ini kami berserak, di teras rumah ada Ike yang lagi asyik menelfon dengan “pujaan hatinya” nun jauh disana. Di kamar ada sibungsu yang lagi tenang menikmati musik paforitnya. Di ruang dapur ada mis F dan mr. N yang lagi khusyuk dalam penjajakan. Sementara aku dan Ilo menikmati pantulan-pantulan nada suara dari tiga penjuru.

Tau ngga apa persamaan antara penyu dan kopi? Pancing Ilo mengubah suasana.

Aku mengertukan kening kesisinya karena tidak faham dengan maksud pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang bagiku cukup nyeleneh. Kubiarkan pertanyaan itu berlalu begitu saja dan kembali meresapi isapan terakhirku.

Persamaannya adalah sama-sama lambat datangnya kalau ditunggu. Tegas Ilo.

Benar saja, suasana tiba-tiba berubah, seketika ruangan riuh penuh tawa.

Tak lama kemudian, suara detak kompor gas dari arah dapur seketika terdengar. Ilo langsung berdiri dan mengangkat kedua tangannya yang terkepal. Yes, berhasil. O...o... aku baru sadar akan maksud dan tujuan dari pertanyaan dan jawaban yang telah Ilo ajukan. Cerdas-cerdas, sambil mengajukan ke dua jempol tangaku kesisinya.

Kawan, mari kita nikmati proses ini. Saya yakin rasa kopi yang akan hadir nantinya pasti beda dengan yang selama ini kita sering rasakan. Maksudnya Lo’?

Maksud saya gini, dulu kan racikan kopi kita khas dengan rumus 2:1. Nah kopi yang kita tunggu ini rumusnya jadi 2:1:2. Apa kopi ala Wiro Sableng??? Ledekku. Dengar dululah kawan. 2:1:2 yang saya maksud adalah 2 sendok gula, 1 sendok kopi, dibuat oleh 2 orang yang lagi kasmaran. Cihhhuyyyyyy....tegas Ilo sambil berteriak.

Selang beberapa menit kemudian, Nas datang memboyong beberapa gelas kopi. Maaf Pung, Kak, terlambat kopinya. Tegas Nas mengibah.

Aku hanya senyum menyambut permohonan itu, sementara Ilo langsung ketawa sumringah dan berkata “santai maki cowok, kami ngerti kok”. Intinya, bergurulah sama kopi, awalnya terpisah, kemudian bertemu pada satu wadah, menyelam bersama dalam air, larut dalam adukan, dan menyisahkan cita rasa yang unik, rasakanlah. Tegas Ilo pada Nas. Biar lambat yang penting datang, dari pada penyuh sampai sekarang belum datang-datang juga. Sambil matanya memberi isyarat ke sisi Ike di teras. Lanjut Ilo.

Hahahahah....spontan ketawa kami kembali membuncah.

Nas sepertinya faham betul dengan makna pesan Ilo’ barusan. Layaknya kami yang tak sabar ingin meneguk kopi buatannya. Nas pun bergegas kembali menuju ruang dapur, melanjutkan ceritanya yang entah sudah sampai dimana. 

Semangat anak muda. Teriak Ilo. Nas membalikkan kepala sejenak, tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya. Sementara aku dan Ilo memenuhi hajat yang dari tadi terpendam. Apa kubilang, rasanya bedakan??? Tegas Ilo sambil meletakkan gelas kopinya yang baru saja ia teguk. Betul-betul!!! Jawabku.
Belum jua kopi kami habiskan. Nas tiba-tiba datang kembali, menyusul Mis N yang tampak malu di belakangnya. Ehem-ehem. Kembali Ilo mengusil.

Nas langsung saja menyikat segelas kopi hingga tuntas. Alhamdulillah. Terpancar dari wajahnya aura kebahagiaan yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Tak usah kau jelaskan anak mudah, bahasa tubuhmu sudah sangat jelas buat kami. Iya ngga Mas, colek Ilo kepadaku meminta pembenaran. Yo’i bro, jawabku singkat.

Pantas malam ini auranya berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Getaran cinta mengalahkan panasnya musim kemarau. Gumamku. Inilah bagian dari kekuatan cinta, menghangatkan dan menyejukkan. Tegas Ilo.

2 comments:

Unknown said...

asiiek eeiuhh....

Unknown said...

Ssiiiippp

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone