Cuaca malam ini sangat
bersahabat, suasananya terasa sangat adem. Tidak seperti waktu-waktu
sebelumnya, jika malam tiba gerah pasti ikut menyerta. Setidaknya demikian yang
sering kami rasa in the kost “Lorong 1 Salemba”.
Suasana ini membuat aku
bertanya-tanya, dan bisa jadi demikian halnya bagi teman-temanku yang lain. Lo’,
gimana perasaan kamu mengenai cuaca malam ini? Tanyaku pada seorang sahabat
yang dari tadi asyik bercengkrama dengan BB nya. Seketika ia berbalik dan
berkata “asyik”, tidak seperti malam-malam kemarin “panas”. Oh rupanya bukan
hanya aku yang merasakan hal itu. Gumamku dalam hati.
Yah mungkin karena
malam ini “ada sesuatu”. Lanjutnya.
Aku haya senyum sumringah
mendengar tambahan jawabannya.
Kubiarkan waktu berlalu
sejenak, kunikmati sisah rokok di tanganku yang sebentar lagi habis. Malam ini
benar-benar aneh. Ditambah lagi dengan keadaan yang tidak sebagaimana biasanya,
berkumpul bersama, berdiskusi, atau hanya sekedar saling mengerjai satu sama
lain. Saat ini kami berserak, di teras rumah ada Ike yang lagi asyik menelfon dengan
“pujaan hatinya” nun jauh disana. Di kamar ada sibungsu yang lagi tenang
menikmati musik paforitnya. Di ruang dapur ada mis F dan mr. N yang lagi
khusyuk dalam penjajakan. Sementara aku dan Ilo menikmati pantulan-pantulan
nada suara dari tiga penjuru.
Tau ngga apa persamaan
antara penyu dan kopi? Pancing Ilo mengubah suasana.
Aku mengertukan kening
kesisinya karena tidak faham dengan maksud pertanyaannya. Sebuah pertanyaan
yang bagiku cukup nyeleneh. Kubiarkan pertanyaan itu berlalu begitu saja dan
kembali meresapi isapan terakhirku.
Persamaannya adalah
sama-sama lambat datangnya kalau ditunggu. Tegas Ilo.
Benar saja, suasana tiba-tiba
berubah, seketika ruangan riuh penuh tawa.
Tak lama kemudian,
suara detak kompor gas dari arah dapur seketika terdengar. Ilo langsung berdiri
dan mengangkat kedua tangannya yang terkepal. Yes, berhasil. O...o... aku baru
sadar akan maksud dan tujuan dari pertanyaan dan jawaban yang telah Ilo ajukan.
Cerdas-cerdas, sambil mengajukan ke dua jempol tangaku kesisinya.
Kawan, mari kita
nikmati proses ini. Saya yakin rasa kopi yang akan hadir nantinya pasti beda
dengan yang selama ini kita sering rasakan. Maksudnya Lo’?
Maksud saya gini, dulu
kan racikan kopi kita khas dengan rumus 2:1. Nah kopi yang kita tunggu ini
rumusnya jadi 2:1:2. Apa kopi ala Wiro Sableng??? Ledekku. Dengar dululah
kawan. 2:1:2 yang saya maksud adalah 2 sendok gula, 1 sendok kopi, dibuat oleh
2 orang yang lagi kasmaran. Cihhhuyyyyyy....tegas Ilo sambil berteriak.
Selang beberapa menit
kemudian, Nas datang memboyong beberapa gelas kopi. Maaf Pung, Kak, terlambat
kopinya. Tegas Nas mengibah.
Aku hanya senyum
menyambut permohonan itu, sementara Ilo langsung ketawa sumringah dan berkata “santai
maki cowok, kami ngerti kok”. Intinya, bergurulah sama kopi, awalnya terpisah,
kemudian bertemu pada satu wadah, menyelam bersama dalam air, larut dalam
adukan, dan menyisahkan cita rasa yang unik, rasakanlah. Tegas Ilo pada Nas. Biar
lambat yang penting datang, dari pada penyuh sampai sekarang belum
datang-datang juga. Sambil matanya memberi isyarat ke sisi Ike di teras. Lanjut
Ilo.
Hahahahah....spontan
ketawa kami kembali membuncah.
Nas sepertinya faham
betul dengan makna pesan Ilo’ barusan. Layaknya kami yang tak sabar ingin meneguk
kopi buatannya. Nas pun bergegas kembali menuju ruang dapur, melanjutkan
ceritanya yang entah sudah sampai dimana.
Semangat anak muda. Teriak
Ilo. Nas membalikkan kepala sejenak, tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya. Sementara
aku dan Ilo memenuhi hajat yang dari tadi terpendam. Apa kubilang, rasanya
bedakan??? Tegas Ilo sambil meletakkan gelas kopinya yang baru saja ia teguk. Betul-betul!!!
Jawabku.
Belum jua kopi kami
habiskan. Nas tiba-tiba datang kembali, menyusul Mis N yang tampak malu di
belakangnya. Ehem-ehem. Kembali Ilo mengusil.
Nas langsung saja
menyikat segelas kopi hingga tuntas. Alhamdulillah. Terpancar dari wajahnya
aura kebahagiaan yang tak pernah kami lihat sebelumnya. Tak usah kau jelaskan
anak mudah, bahasa tubuhmu sudah sangat jelas buat kami. Iya ngga Mas, colek
Ilo kepadaku meminta pembenaran. Yo’i bro, jawabku singkat.
Pantas malam ini
auranya berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Getaran cinta mengalahkan
panasnya musim kemarau. Gumamku. Inilah bagian dari kekuatan cinta, menghangatkan dan menyejukkan. Tegas Ilo.
2 comments:
asiiek eeiuhh....
Ssiiiippp
Post a Comment