Latar Belakang
Tasawuf
sebagai bagian dari kemulitan dimensi keagamaan senantiasa berkembang, meski
pun kesannya sangat lamban namun langkahnya cukup pasti dan mengakar. Awal-awal
proses internalisasinya hanya terbatas pada praktek-praktek ritual individual,
tapi seiring dengan arus komunikasi dan interaksi antara individu yang satu
dengan yang lainnya, konstuksi ritual-ritual individual itu kemudian disepakati
oleh yang lainnya sehingga mulailah terbentuk kelompok.
Tuntutan
fitrah kemanusiaan akan kesempurnaan dan pemahaman mendalam terkait dengan
rahasia-rahasia kehidupan, maka kelompok ini kemudian melakukan pengorganisiran
dengan cara membentuk suatu aliran/corak pemikiran dan ritual sebagai media
untuk melakukan penguatan serta pendalaman ajaran-ajaran kepada para
simpatisannya, hal ini dimaksudkan untuk memberi andil dalam menjawab
kebututuhan asasi manusia itu sendiri.
Menguatnya
kelompok-kelompok tasawuf ini telah turut memberikan konstribusi dalam
perkembangan agama, dan bahkan secara konsisten para aktornya terus tampil
kepermukaan untuk mengintrenalisasikan ajaran-ajaran kesadaran akan nilai dan
hakikat kehidupan. Jalauddin Rumi misalnya, hingga kini namanya dan ajarannya
terus dikenang, bahkan ia diasumsikan sebagai figur manusia universal.[1]
Ia
bagai gerbang raksasa bagi kemnausiaan, ribuan orang yang tersentuh dengan
ajaran-ajaran dan karya-karyanya yang dipublikasikan lewat aliran tasawuf
Maulawiyahnya. Ia diibaratkan sebagai obat yang mampu menyembuhkan luka yang
ditimbulkan oleh kegamangan intelektual serta keresahan kemanusiaan.
Melalui
pendekatan spiritual yang bercorak artistik dan kreatif, tarekat ini menyapa
kebimbangan manusia dalam kesadaran akan ketidak menentuannya dalam menjalani
kehidupan. Wajar jika aliran tasawuf ini banyak diapresiasi dari generasi ke
genarasi, bukan hanya di Barat melainkan Timur pun mulai melirik dan mendalami
alur paradigma dan spiritulitas yang diembannya.
Rumusan Masalah
Berpijak
dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat
merumuskan pokok permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaiaman
sejarah Terbentuknya Tarekat Maulawiyah?
2. Bagaimana
Pemahaman yang diusung oleh Tarekat Maulawiyah?
3. Seperti
apa ciri-ciri yang dimiliki tarekat Maulawiyah?
4. Apa
karya-karya yang lahir dari tarekat ini?
5. Bagaimana
perkembangannya hingga saat ini?
Sejarah Terbentuknya Tarekat Maulawiyah
Tarekat (thariqah) secara harfiyah berarti jalan
kecil, dan jika makna ini ditarik masuk kedalam pemahaman yang lebih dalam,
maka ia memiliki dua pengertian yang berbeda namun tetap saling terkait. Yang pertama, tarekat
dimengerti sebagai perjalanan spiritual menuju Tuhan. Yang kedua, tarekat dipahami sebagai “persaudaraan“ atau ordo spiritual
yang biasanya merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh seorang guru (mursyid),
dan para khalifahnya.
Penamaan
tarekat maulawiyah merupakan turunan dari kata maulana yang berarti guru kami atau dalam istilah lain our master, yaitu gelar yang diberikan
murid-muridnya kepada sorang sufi penyair Persia terbesar Muhammad Jalal al-Din
Rumi yang wafat pada tahun 1273.[2] Dari sini jelas terpahami bahwa tarekat
ini didirikan oleh Rumi yang meninggal di Anatolia Turki. Khas dari aliran
tarekat ini ialah tarian mistik dengan cara keadaan tidak sadar (fana’), agar dapat bersatu dengan
Tuhan. Penganut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak berharap pada
kepentingan diri sendiri, serta berpengarangai degan gaya hidup yang sangat sederhana.[3]
Maulana Rumi
merupakan sapaan akrab bagi Jalal Al-Din Muhammad, lahir di Kota Balkh (Afganistan
sekarang) pada tanggal 6 Rabi’ul Awal, tepatnya 30 September 1207, dari sisi
ayahnya ia merupakan keturunan khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, sedangkan dari
pihak ibunya mata rantai kekeluargaannya tersambung dengan Ali bin Abi Tholib.
Keluarga Rumi
merupakan keluarga terpandang, satu bukti ialah ayahnya Baha'al-Din Walad
diangkat jadi pembimbing spiritual oleh Sulat Konya, bahkan Sultan tersebut
juga memberinya gelar kerhormatan "Sultan al-Ulama (rajanya para
ulama)". Setelah ayahnya meninggal, Rumi mengambil posisi ayahnya sebagai
penasehat para ulama Konya serta pembimbing bagi murid-murid ayahnya, kurang
lebih satu tahun dari kematian ayahnya, atas anjuran gurunya Burhan al-Din Rumi
meneruskan pendidikannya di Aleppo dan mengunjungi beberapa madrasah yang
dibangun oleh al- Malik al-Zhahir. Dari sini Ia pindah ke Damaskus dan
mempunyai kesempatan emas untuk bercakap dengan tokoh-tokoh besar, seperti Muhy
al-Din bin 'Arabi, Sa'ad al-Din Al-Hamawi, Utsman Al-Rumi, Awhad al-Din bin
Arabi, dan Shadr al-Din al-Qunyawi. Pada tahun 1236 Rumi kembali ke Konya dan
menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dan memberikan bimbingan spiritual sampai
gurunya meninggal dunia pada tahun 1241.[4]
Selama
bertahun-tahun Rumi menikmati popularitasnya yang tinggi dan menempati posisi
yang sangat dihormati sebagai seorang pemimpin. Tiba-tiba pada tahun 1244
seorang Darwisy misterius, Syams al-Din Tabrizi datang ke Konya dan menjumpai
Rumi. Perjumpaan ini telah mengubah Rumi dari seorang Teolog terkemuka menjadi
seorang penyair mistik yang sangat terkenal. Karena kuatnya pesona kepribadian
Syams, Rumi lebih memilih meninggalkan kegiatannya sebagai guru dan da'i
profesional untuk mengabdikan diri kepada Syams yang kini menjadi guru
spiritualnya, dan mereka tidak pernah berpisah dalam beberapa waktu untuk
memperkuat ikatannya. Tetapi keadaan ini membuat murid-murid Rumi marah dan
cemburu karena tidak mendapat bimbingan spiritual akibatnya mereka menyerang
Syams dengan kekerasan dan ancaman, sehingga ia meninggalkan Rumi menuju
Damaskus.
Perpisahan ini
dirasa menyakitkan oleh Rumi dan menghunjam perasaannya begitu mendalam, karena
itu ia mengutus anaknya sultan Walad untuk memohon Syams agar kembali ke Konya.
Rumi bahagia bisa jumpa lagi dengan sang guru, akibatnya apa yang telah terjadi
terulang kembali. Tentunya murid-murid Rumi menjadi lebih marah dan terus
menaruh kebencian pada Syams dengan lebih hebat dari sebelumnya. Situasi ini
mendorong Syams untuk mencari perlindungan ke Damaskus.
Sebagai tanda
cintanya kepada Tabrizi, Rumi menulis kumpulan puisi yang kemudian dikenal
dengan Divan-e Shams-e Tabrizi.[5]
Kenapa aku harus mencari?
Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang kucari adalah diriku sendiri!
Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang kucari adalah diriku sendiri!
Cinta dan
keindahan membuat ajaran Rumi berbeda dengan aliran tarekat lain. Sejumlah
tarekat saat itu lebih banyak berkonsentrasi untuk menyempurnakan diri menuju insan kamil lewat ibadah, wirid, atau
menyodorkan faham ketauhidan baru. Penyatuan diri dengan Tuhan (wihdatul wujud) yang berkembang
berabad-abad sebelum Rumi di Baghdad adalah salah satu cara pencapaian menuju Tuhan yang tidak dipilih Rumi.
Sebagai seorang
seniman, Rumi memiliki cara sendiri dalam mencapai kesempurnaan dalam beragama
tanpa harus menjadi ekstrem (membangun pertentangan dengan syariat). Ia memanfaatkan
puisi, musik dari seruling dan gitar (rebab) untuk mengiringi dzikir-dzikirnya,
cara ini kemudian dikenal dengan sema’
yang berarti mendengar.[6]
Setelah kembali ke Konya, Rumi
mendirikan Tarekatnya sendiri, kira-kira 15 tahun setelah itu kesehatan Rumi
menurun dan tak lama kemudian ia sakit. Akhirnya pada hari minggu tanggal 16
Desember 1273 Mawlana Rumi menghembuskan nafasnya yang terakhir di kota
Konya. Rumi meninggal dan dikubur dalam Kubah Hijau (Qubat-ul-Azra’) yang bertuliskan “Saat kami meninggal, jangan cari kuburan kami di tanah, tapi carilah
di hati manusia.” Namun ritual sema’ itu tak ikut mati. Para pengikutnya,
terutama anaknya, Sultan Veled Celebi, melembagakan ajaran itu dalam tarekat
bernama Mawlawiyah atau Mevleviye. Mungkin ini pulah yang menjadi penyebab bagi
Annemarie Shimmel menyimpulkan bahwa kita dapat dengan aman mengatakan bahwa tidak ada penyair dan mistik Islam
lainnya yang dikenal demikian baik di Barat kecuali Rumi.[7]
Pemahaman Tarekat Maulawiyah
Ajaran-ajaran
Rumi, pada dasarnya dapat dirangkum dalam triologi metafisik, yaitu
Tuhan, Alam dan Manusia.[8]
1. Ajaran Maulana Rumi tentang Tuhan
Gagasan Rumi
terkait dengan persoalan ke-Tuhan-an terinspirasi dari pernyataan Al-Quran
sendiri yang menyatakan bahwa Tuhan adalah “Yang Awal, Yang Akhir, Yang Lahir,
Yang Batin”.[9] Tuhan
“Yang Awal” bagi Rumi, berarti bahwa Ia adalah sumber yang dari-Nya segala
sesuatu berasal. Tuhan sebagai “Yang Akhir” diartikan sebagai tempat kembali
segala yang ada di dunia ini. Hal yang menarik dari Dia ialah pandangannya
tentang Tuhan itu sebagai keindahan sehingga menjadi tujuan dari semua jiwa
yang mencinta.[10]
Tuhan sebagai
“Yang Lahir”, bagi Rumi dunia yang lahir adalah fenomena yang dibaliknya
terselip pesan akan realitas sejati, artinya bahwa dunia yang lahir merupakan
petunjuk bagi adanya yang batin karena keduanya adalah dua hal yang saling
terkait, maka dari itu Ia mempertegas bahwa tidak mungkin ada yang lahir tanpa ada yang batin, dan yang lahir
merupakan jalan menuju realitas yang tersembunyi di dalamnya.
Dengan
demikian, Tuhan sebagai “Yang Batin”, adalah realitas yang lebih mendasar,
sekalipun untuk dapat memahaminya dibutuhkan mata lain yang lebih peka/tajam.
Jadi tidak semua orang dapat melihat kecantikan Tuhan yang tersembunyi di balik
fenomena alam. Kebanyakan kita adalah pemerhati fenomena dan karena itu tidak
bisa melihat keindahan batin yang tersembunyi di balik fenomena lahiriah alam.
2.
Konsep Rumi tentang alam semesta
Menurut Rumi bahwa motif penciptaan alam oleh Tuhan adalah cinta.
Cintalah yang telah mendorong Tuhan mencipta alam, sehingga cinta Tuhan
merembas, sebagai napas Rahmani, kepada seluruh partikel alam lalu
menghidupkannya.[11] Alam
bukanlah benda mati, melainkan ia hidup dan berkembang, bahkan juga memiliki
kecerdasan, sehingga mampu mencintai dan dicintai, berkat sentuhan cinta Tuhan,
ia menjadi makhluk yang hidup, bergerak penuh energi kearah Tuhan sebagai yang Maha baik dan Sempurnah. Dalam salah satu syairnya, Rumi pernah menggambarkan hubungan
langit dan bumi seperti sepasang suami-istri.[12]
3.
Konsep Rumi tentang manusia
Rumi memandang
manusia sebagai tujuan penciptaan alam, sehingga itu pula yang menjadi penyebab
kenapa kemudian manusia memiliki posisi yang sangat istimewa kaitannya dengan
alam maupun dengan Tuhan. Kaitannya dengan Tuhan, manusia menempati posisi yang
tinggi sebagai wakil-Nya di muka bumi.
Hal lain yang
menarik dari Rumi kaitannya dengan manusia adalah sifat kebebasan memilih yang
merupakan prasayarat bagi perkembangan dan aktualitas diri manusia itu sendiri.[13]
Menurutnya bahwa manusia lahir tidak dalam keadaan sempurna, tapi ia dibekali
dengan sejuta potensi dan untuk mengaktualkan hal tersebut manusia membutuhkan
kebebasan dalam memilih. Dengan kebebasan inilah manusia dapat mencapai titik
kesempurnaannya sebagai insan kamil. Tapi
dengan kebebasan ini pula, manusia memiliki resiko yang besar untuk mejadi
makhluk terendah, yaitu ketika dia menuruti hawa nafsunya.[14]
Selain itu, Manusia juga memiliki
kemampuan untuk memahami sesuatu atau dengan kata lain mampu memiliki ilmu
pengetahuan. Pengetahuan manusia bertingkat-tingkat sesuai dengan alat yang
digunakan untuk tujuan itu. Ada pengetahuan indrawi, pengetahuan yang
didasarkan penalaran akal, dan pengetahuan melalui persepsi spiritual
(intuisi).
Ciri Utama Tarekat Maulawiah
Kekhususan tarekat ini adalah dakwah yang dikemas dengan cara menggunakan
tarian-tarian yang disebut sama’ dalam bentuk tarian berputar, dan telah
menjadi ciri khas dasar bagi tarekatnya. Akibatnya, tarekat Rumi di Barat
dikenal sebagai The Whirling Darvish (Para Darwisy yang
Berputar). Tarian suci ini dimainkan oleh para Darwish (fuqara’) dalam
pertemuan-pertemuan (majlis) sebagai dukungan eksternal terhadap
upacara-upacara (ritual mereka).
Sama’ dilembagakan Rumi pertama kali setelah hilangnya gurunya yang sangat
dicintai, Syams al-Din Tabrizi. Sejak saat itu Rumi menjadi sangat sensitif
terhadap musik, sehingga tempaan palu dari seorang pandai besi saja cukup untuk
membuatnya menari dan berpuisi.
Tahapan-tahapan
dalam sama’ terdiri dari dua bagian. Pertama,
terdiri dari Naat (sebuah puisi yang
memuji Nabi Muhammad), improvisasi ney (seruling) atau taksim dan
“Lingkaran Sultan Walad”. Kedua, terdiri
dari empat salam, musik instrumental akhir, pembacaan ayat-ayat
suci al-Quran dan doa.[15]
1.
Bagian Pertama
- Naat, semacam musik religius. Naat dalam musik mawlawi disusun oleh Buhuriz Musthafa' Itri (1640-1712), tetapi puisinya adalah puisi Rumi.
- Taksim, adalah sebuah improvisasi terhadap setiap makam atau mode, yaitu konsep penciptaan musik yang menentukan hubungan-hubungan nada, nada awal yang memiliki kontor dan pola-pola musik. Bagian ini merupakan bagian yang sangat kreatif dari upacara Mawlawi.
- Lingkaran Sultan Walad, ini disumbangkan kepada upacara oleh putra sulung mawlana, sultan Walad. Selama putaran ini para darwisy yang ikut bagian dalam putaran tari berjalan mengelilingi sang samahane (ruang upacara) tiga kali dan menyapa satu sama lain di depan pos (lokasi tempat pemimpin tekke atau pemimpin upacara berdiri). Dengan cara ini mereka menyampaikan "rahasia" dari yang satu kepada yang lain.
2.
Bagian kedua (empat salam), yaitu :
- Salam pertama, melodi panjang, irama yang digunakan biasanya disebut putaran berjalan (Devri Revan), bitnya adalah 14/8.
- Salam keduan, pola irama dari salam ini disebut Evfer dan terdiri dari 9/8 bit.
- Salam ketiga, dibagi kedalam dua bagian yang meliputi melodi dan irama. Bagian pertama disebut putaran (the cycle) bitnya 28/4 bagian kedua disebut yourk semai dan bitnya 6/8.
- Salam keempat, pola irama ini juga efver (9/8), yakni irama lambat dan panjang untuk menurunkan elastasi sehingga sang darwisy bisa konsentrasi kembali. Tiap-tiap salam dihubungkan melalui nyanyian, pada bagian pertama dan kedua seleksi diambil dari Divan-Syams atau mastnawi, pada bagian ketiga puisi mawlawi lain dinyanyikan.
Terkait
dengan musik instrumental setelah berakhirnya salam keempat berarti bagian oral
selesai “yuruk semai” kedua dalam
pola 6/8 sekaligus akhir dari upacara. Dan setelah seleksi instrumental ini
terdapat lagi taksim seruling, yang juga kadang dimainkan melalui alat musik
petik (senar).
Setelah
tahapan musik selesai, seorang hafizh di antara para penyanyi membaca ayat-ayat
Alquran. Sama’ terus berlangsung sampai bacaan Alquran dimulai. Ketika hafizh memulai bacaan Alqurannya maka para
penari berhenti dan mundur ke pinggir lalu duduk. Setelah selesai, pimpinan
sama’ berdiri dan mulai berdo’a di depan syaikh, dan doa ini biasanya
ditujukan untuk kesehatan dan hidup sang Sultan atau para penguasa negara.
Karya-Karya Tarekat Maulawiah
Ada beberapa karya-karya
yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan popularitas Tarekat
Maulawiyah, baik itu yang ditulis oleh Rumi maupun para pengikutnya. Berikut
adalah bagian dari yang dimaksudkan :
1. Matsnawi al-Ma’nawi, atau
Matsnawi Jalal al-Din Rumi sekaligus
merupakan karya utama Rumi. Kitab ini berisi syair panjang sekitar 25.000
untaian bait bersajak dan terbagi ke dalam enam kitab. Karya monumnetal ini
menyajikan ajaran-ajaran mistik Rumi dengan indah dan kreatif melalui anekdot,
hadits-hadits nabi, dongeng-dongeng serta kutipan-kutipan dari Alquran.
2.
Rumi juga menulis Ghazal (puisi cinta) yang lebih dikenal sebagai Divan-i Syams-i Tabriz (Ode
mistik Syams Tabriz). Karya memukau ini dipersembahkan kepada guru tercintanya
Syams al-Din Tabriz, dan ditulis untuk mengenangnya. Dalam karya ini Rumi
mengekspresikan penghormatannya kepada Syams, yang namanya sering dikutip
diakhir setiap bait. Karya ini berisi 2500 ode mistik. Menurut Nasr karya ini
mencakup juga beberapa syair yang paling indah dan kaya dalam bahasa Persia,
yang membicarakan fungsi pembimbing spiritual dan hubungan antara guru dan
murid.
3.
Fihi Ma Fihi, yang telah diterjemahkan menjadi Discourse of Rumi atau “Percakapan Rumi”.
Karya prosa ini mencakup ucapan-ucapan Rumi yang ditulis oleh putra sulungnya yang
bernama Sultan Walad.
4.
Ruba’iyat, berisi 1600 kuatern orisinal dan al-Maktubat, berisikan 145 surat
yang ditujukan kepada para keluarga raja dan bangsawan di Konya.
5.
Manaqib
al-‘Arifin (legends of sufis), yang
dikarang oleh seorang murid cucu Rumi, Chelibi Emir ‘Arif, yang bernama Syams
al-Din Ahmad Aflaki. Karya ini berisi biografi dan anekdot-anekdot Rumi, dan
tokoh-tokoh lain yang terkait dengan beliau dan tarekat Maulawiyah. Oleh karena
itu Manaqib al-‘Arifin sangat penting
sebagai sumber informasi baik bagi kehidupan Rumi dan keluarganya, maupun bagi
perkembangan Tarekat Maulawiyah itu sendiri.
Perkembangan Tarekat Maulawiah
Dalam
perjalanan sejarahnya, aliran tarekat ini berhasil menarik perhatian para petinggi
di Kesultanan Ottoman. Bahkan di masa inilah Mauwlawiyah mampu menghasilkan
sejumlah penyair dan musisi legendaris seperti Sheikh Ghalib, Ismail Ankaravi
yang berasal dari Ankara, dan Abdullah Sari. Bahkan ada yang mengatakan
masuknya nay atau seruling ke dalam
peradaban Eropa adalah berkat merambahnya aliran Mawlawiyah ke daerah “jajahan”
Ottoman di Eropa. Dan berkat tersebarnya ajaran-ajaran cinta Rumi ke seluruh dunia sebagaimana yang termaktub
dalam syairnya bahwa ”Manusia diciptakan
dengan cinta untuk cinta. “Semua cinta adalah jembatan menuju Sang Maha
Kasih. Karenanya, yang tak pernah merasakan cinta, tak akan pernah
mengetahuinya”.[16]
Salah satu ordo
yang berkembang pesat adalah Tarekat Maulawiyah yang bermarkas di Amerika
Utara, dan dipimpin oleh Shaikh Kabir Helminski. Bersama isterinya Camille
Helminski mereka membentuk organisasi dalam pengajaran spiritual The Treshold
Society yang menyedot perhatian ratusan ribu orang. Kabir kemudian ditunjuk
menjadi Shaikh (Musryid) oleh
almarhum Dr. Celaleddin Celebi dari Turki, pemimpin Tarekat Maulaiyah dan
penerus generasi ke 21 dari Jalaluddin Rumi.
Kabir menulis
sejumlah buku tasawuf dan menerjemahkan beberapa karya Rumi. Dia orang muslim
pertama yang diminta memberikan kuliah tentang spiritualitas di Harvard
Divinity School. Kutipannya: Apakah Threshold Society itu? The Threshold
Society (Masyarakat Ambang Pintu) adalah sebuah yayasan nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan untuk pengembangan spiritual dengan tradisi tarekat
Mawlawiyah. Tujuannya, dalam pengertian luas untuk mengajarkan prinsip-prinsip
pencapaian pengalaman spiritual. Pelatihan ini terbuka untuk semua orang tanpa
membedakan agama dan kepercayaan yang dianut.
Ajarannya
bersumber dari prinsip kerohanian yang termaktub dalam Alquran, khususnya
seperti yang dianut para sufi besar semacam Bahauddin Naqshaband, Muhyiddin Ibn
Arabi, dan yang terpenting baginya adalah Jalaluddin Rumi. Ketika kemanusiaan
digerus oleh benturan berbagai kebudayaan, krisis ekologi, dan perubahan sosial
yang sangat cepat, kelompok ingin mempromosikan kebenaran cinta dan pengetahuan
Yang Mahakuasa melalui pengalaman langsung dan personal.
Untuk mencapai
tujuan ini, digunakanlah beberapa ungkapan dan prinsip-prinsip inti dalam
pengembangan spiritual, mengakui dan mengembangkan kemitraan sejati antara
laki-laki dan perempuan, mengakui kemenyatuan dan kesalingtergantungan semua
manusia dan semua makhluk hidup. Selain dari pada itu juga dikembangkan
ekspresi kontemporer dari tradisi tasawuf klasik, dalam kata artian ialah
menciptakan format yang memungkinkan individu-individu dan kelompok-kelompok
untuk menjadi matang serta menyerap kenikmatan tasawuf, dan akhirnya memberikan sumbangan nyata bagi
kebudayaan melalui seni, musik, dan sastra.
Manusia,
termasuk orang Amerika, memiliki kebutuhan untuk bermasyarakat, khususnya
masyarakat yang berbagi nilai-nilai spiritual. Nilai-nilai sufistik sangat
penting untuk memperbaiki perilaku masyarakat. Adab ditekankan secara
khusus dalam tradisi Mawlawiyah. Bagian penting dari pendidikan spiritual
adalah mengembangkan kapasitas masyarakat untuk kemitraan. Dan komunitas
pecinta Tuhan adalah wahana untuk mengembangkan kapasitas ini.
Tarekat
Mawlawiyah mempunyai upacara yang indah, yang disebut Sama', yang terdiri dari
ekspresi ibadah dan dalam waktu yang sama mencakup sebuah tradisi upacara dan
musik spiritual. Di kota-kota besar Amerika Utara, upacara ini menjadi salah
satu peristiwa kebudayaan yang paling populer. Banyak pengamat yang memuji
getaran spiritualitas yang dirasakan setelah menyaksikan upacara itu.
Pengakuan salah
seorang dari team ini bahwa suatu waktu kami diundang ke acara pertemuan antar iman
di Katedral Nasional Washington, tempat ibadat Presiden Amerika Serikat. Ada
sekitar 2.000 orang non-muslim yang ikut menyenandungkan zikir dan menyimak la
ilaaha illallah begitu sejumlah darwis Mawlawiyah Amerika berpusar di
panggung. Salah satu uskup Washington mengatakan bahwa pandangannya tentang
spiritualitas semakin kaya malam itu![17]
Kesimpulan
Dari pembahasan
yang telah dikemukakan di atas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berkut
:
1. Tarekat
Maulawiyah adalah tarekat yang didirikan oleh Jalaluddin Rumi di Konya setelah
seorang darwisy yang menjadi guru utamanya meninggal.
2.
Sistem
pemahaman yang diusung oleh tarekat Maulawiyah ini bernuansa integral yang
kemudian terakhir diistilahkan dengan triologi; melihat keterikatan secara
substansial antara Tuhan, manusia dan alam semesta.
3. Ciri utama yang sangat menonjol dari
aliran tarekat ini ialah praktek zikir yang dilakukan dengan cara menari untuk
memperoleh kefanaan spiritual.
4. Rumi telah
menghasilkan karya monumental yang sekaligus sangat bermanfaat bagi semua
orang, diantaranya ialah : Mastnawi al-Ma’nawi, atau Mastnawi, ghazal
(puisi cinta) yang lebih dikenal sebagai Divan-i Syams-i Tabriz (Ode
mistik Syams Tabriz), Karya prosa yang berjudul Fihi Ma Fihi, yang telah
diterjemahkan menjadi Discourse of Rumi atau “percakapan Rumi”, Ruba’iyat,
yang berisi 1600 kuatern orisinal dan al-Maktubat, Manaqib al-‘Arifin
(legends of sufis).
5. Tarekat
maulawiyah ini lebih pesat berkembang di Amerika, sedangkan di Indonesia
tarekat ini belum begitu buming baik secara intelektualitas dan terlebih lagi
praktisi.
DAFTAR PUSTAKA
Afifi,
Abu al-Ala’. Fii Tasawuf al-Islam wa Tarikhukhu.
Kairo : Matba’ah lajnah at-Ta’lif wa al-Nasyr, 1388 H.
Banani,
Amin. Kidung Rumi: Puisi dan Mistisisme
dalam Islam, Surabaya : Risalah Gusti, 200.
Chittick, William. The Sufi Doctrine of Rumi: An Introduction, Teheran : Aryamehr
University Press, 1974.
Google, blogberita.net/2008/06/16/fanatiklah-pada-cinta-bukan-agama, diakses pada tanggal 12 Mei 2011.
Hartono, Ahmad Jaiz. Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan.
Cet. I; Solo : Wacana Ilmiah Press, 2006.
Iqbal, Muhammad. The
Development of Metaphysic in Persia, London: Luzac & Co. Ltd., 1908.
Labib, Muhsin. Mengurai
Tasawuf Irfan dan Kebatinan. Cet. I; Jakarta : Ikapi, 2004.
Kartanegara, Mulyadi. Jalal al-Din Rumi : Guru Sufi, Penyair Agung, Cet.I; Jakarta :
Teraju, 2004.
Mulyati, Sri. Mengenal & memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. Cet. I; Jakarta: Kencana, 2004.
Muthahari,
Murtahda. Menapak Jalan Spiritual. Cet.
I; Bandung: Pustaka Hidayah, 2006.
Nassr,
Sayyed Hoosein, Islamic Spirituality:
Manifestations. terj. Tim Penerj. Mizan, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam : Manifestasi, Cet. I;
Bandung : Mizan, 2003.
www. majalah.tempointeraktif.com, diakses pada tanggal 12 Mei 2011.
www. majalah.tempointeraktif.com, diakses pada tanggal 12 Mei 2011.
[1] William Chittick, The Sufi Doctrine of Rumi: An Introduction, (Teheran
: Aryamehr University Press, 1974), h. 10. Lihat juga Sayyid Hossein Nasr yang
menyatakan bahwa Tarekat Maulawiyah memainkan peranan besar dalam sejarah
kekaisaran Utsmaniyyah secara spiritual, kultural, dan politik. Islamic Spirituality: Manifestations. terj.
Tim Penerj. Mizan, Ensiklopedi Tematis
Spiritualitas Islam, (Cet. I Bandung : Mizan, 2003), h. 151-152.
[2] Sri Mulyati, Mengenal
& memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2004), h.
321.
[3] Ahmad Jaiz Hatono, Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan.
(Cet. I; Solo : Wacana Ilmiah Press, 2006), h. 24.
[5] Google, blogberita.net/2008/06/16/fanatiklah-pada-cinta-bukan-agama, diakses pada tanggal 12 Mei 2011.
[7] Amin Banani (ed.), Kidung Rumi: Puisi dan Mistisisme dalam
Islam, (Surabaya : Risalah Gusti, 2001), h. 6.
[8] Sri Muliyani, Op.cit., h. 326.
[9] Muliadi Karta Negara,
Jalal al-Din Rumi : Guru Sufi, Penyair
Agung, (Cet.I; Jakarta : Teraju, 2004), h. 27. dan QS. 57 : 3.
[10] Muhammad Iqbal, The Development of Metaphysic in Persia, (London:
Luzac & Co. Ltd., 1908), h. 113.
[11] Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam; Menembus Batas
Waktu, (Cet. II; Bandung : Mizan, 2005), h. 26.
[13] Mulayadi Kartanegara,
Panorama Filsafat Islam; Menembus Batas
Waktu., Op.cit., h.27.
[14] Ibid., h. 28.
[16] Risensi bacaan
penulis dari Koran Tempo 27 Agustus 2007 pada bagian Blog Berita oleh Qaris Tajudin.
2 comments:
Indah....Ya Maulana...
Thanks
Post a Comment