Kisah Horor Guru Honor

Saturday, December 12, 2015 Labels:



https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRh-wQeV-MkNcNSQhXmg_Dzkk3V82HrsfpniSK3Tb20I0sxjI1KNA

Para pelaku pendidikan (terutama guru dalam perspektif struktur formal), selalu dituntut untuk tampil maksimal dan profesional, baik itu di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Posisinya yang istimewa sebagai cermin dasar peradaban, mengharuskan guru untuk selalu mawas dalam hal tutur lisan, tulisan, maupun tindakan agar bisa terhindar dari penghakiman sosial “bugis: guru bawammi (guru kok gitu)”.

Guru sebagai sebuah profesi, hingga saat ini selalu dipetakan menjadi dua bagian, yaitu; guru negri (PNS) dan guru “luar negri” (honor). Kedua posisi ini dipastikan tidak pernah luput dari jenjang pendidikan formal apapun, dari TK hingga Perguruan Tinggi. Lantas pertanyaannya adalah “apakah siswa atau mahasiswa senantiasa mempertanyakan kedua pelabelan ini?”. Yah, bisa dikata bahwa, hal tersebut “kalau toh ada” maka frekuensinya pasti jarang terjadi. Tapi mengapa dalam hal status sosial tema ini selalu menjadi topik hangat? Tak jarang kita temukan pertanyaan seputar masalah ini di tengah masyarakat. Profesinya apa? Guru! Sudah terangkat? Belum! Oh begitu. Hal senada, apa pekerjaannya? Guru! Sudah terangkat? Yah sudah! Alhamdulillah.
Pertanyaan yang sama di atas, melahirkan dua jawaban dan penghargaan yang berbeda. Jika posisi ke-guru-annya telah dinegrikan maka antusias ceritapun berlanjut. Tapi jika yang terjadi sebaliknya “honor” maka kenyataan sambutan psikologis pun tampil berbeda. Apatah lagi jika yang bersangkutan memang kurang fleksibel dalam hal komunikasi.
Hal lain bahwa, tidak jarang guru honor diperlakukan “sesuka hati” oleh guru yang telah berada di luar lingkaran itu. Mereka cenderung dituntut untuk bisa tampil perfect dalam berbagai sektor, baik dalam hal proses belajar mengajar, administrasi, maupun tugas-tugas lainnya. Untung baik jika yang bersangkutan memang multi talent, jika tidak maka resikonya adalah “gigit jari dengan kukunya”.
Saya teringat dengan ceritera tentang seorang guru honor yang dengan tulus mengabdikan diri pada sekolah tertentu di sebuah daerah. Sosok guru honor ini selalu tampil bersahaja dan apa adanya. Ia sangat fobia menggunakan simbol-simbol formal saat hendak menunaikan tugas belajar mengajarnya. Ia tergolong guru honor yang superaktif dan kreatif. Sekat antara guru-siswa berhasil ia cairkan. Para siswa-siswanya pun sangat senang dengan kehadirannya. Yah, tidak sebagaimana guru lazimnya. Ia membuktikan eksistensinya sebagai guru yang disenangi dengan cara sering terlambat masuk mengajar. Hebatnya karena pada setiap kejadian tersebut, para siswa-siswanya selalu datang ke rumahnya untuk memanggil dan mengingatkannya.
Suatu ketika, ia diberi tugas untuk mengawal beberapa kegiatan lomba antar sekolah sederajat. Walhasil ia pun sukses menunaikan tanggung jawabnya dengan sempurna. Beberapa sovenir berhasil ia tenteng pulang. Dari medali perak, perunggu, dan emas, sukses ia persembahkan. Ironisnya karena pada moment penyambutan yang dikemas secara wah di sekolahnya, justru ia memilih untuk tidak hadir. Alasannya sederhana, katanya "aku tidak pantas untuk itu, biarlah para murid-murid itu yang diapresiasi, sebab memang harus demikian adanya untuk dunia seusianya". 
Seiring dengan perjalan waktu, ia memilih istirahat sejenak untuk tidak masuk mengajar. Ia menyampaikan kepada siswa-siswanya akan hal tersebut, tapi tidak pada mitra mengajar dan kepala sekolahnya. Baginya bahwa, tanggung jawab mengajar itu hanya pada siswa, jadi jika tidak sempat masuk maka seyogyanya izin dari mereka harus didapat. Strategi defendensinya berhasil, kepala sekolahnya pun senantiasa mendatangi rumahnya agar cepat-cepat kembali masuk mengajar karena para siswa “bergentayangan” tanpa kehadirannya. 
Singkat cerita bahwa, dari sekian banyak strategi pembelajaran yang ia terapkan, bisa dikata telah berhasil menoreh beragam prestasi di sekolahnya. Proses belajar mengajar tidak hanya ia terapkan di sekolah, saat malam hari pun ia tetap di kerumuni oleh para siswanya untuk belajar. Hal menarik lainnya ialah, saat keluar main di sekolahnya, ia sama sekali tidak pernah ditemukan duduk santai di kantor bersama jajaran guru lainnya. Ia malah selalu asyik bermain bersama dengan siswa-siswanya. Sang honorer ini betul-betul telah memberi sentuhan baru dalam dunia pendidikan.
Tapi sayang seribu sayang, setelah pergantian rezim kepemimpinan di sekolah tempat ia mengajar. Ia malah memilih keluar dari sekolah. Ia tidak sepakat dengan sistem kakuh yang diterapkan oleh pucuk pimpinan barunya. siswa-siswa bahkan orang tua siswapun banyak yang menangisi dan menyesali keputusan sang guru honor tersebut. Mereka satu persatu datang menghampiri, membujuk dan memintanya untuk kemabali mengajar. Tapi jawabannya cukup singkat “saya mau istirahat dari sekolah tapi tidak untuk mengajar”. Rumah saya selalu terbuka kepada siapapun yang mau berbagi pengalaman dan ilmu.
Cerita di atas melukiskan kisah horor guru honor. Ketulusan dan idealisme mereka tak jarang berbenturan dengan realitas kebijakan sepihak. Tapi karena guru honor di atas adalah bukan tipologi pencari popularitas, maka dengan sendirinya memberi wahana perenungan baru bagi para pelaku pendidikan yang lain.
Dari ceritera tersebut, seyogyanya stigma, labeling, penamaan guru PNS dan honor bisa diretas. Mereka harusnya diposisikan sebagai sama-sama pelaku pendidikan, tidak kemudian menghakimi mereka “honorer” dengan mata sepihak, sebab tak jarang mereka memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari pada yang telah dilegalisasi secara struktural.
Wallahu a’lam bisshawab.

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone