Guru sebagai sebuah
profesi, hingga saat ini selalu dipetakan menjadi dua bagian, yaitu; guru negri
(PNS) dan guru “luar negri” (honor). Kedua posisi ini dipastikan tidak pernah
luput dari jenjang pendidikan formal apapun, dari TK hingga Perguruan Tinggi. Lantas
pertanyaannya adalah “apakah siswa atau mahasiswa senantiasa mempertanyakan
kedua pelabelan ini?”. Yah, bisa dikata bahwa, hal tersebut “kalau
toh ada” maka frekuensinya pasti jarang terjadi. Tapi mengapa dalam hal status
sosial tema ini selalu menjadi topik hangat? Tak jarang kita temukan pertanyaan
seputar masalah ini di tengah masyarakat. Profesinya apa? Guru! Sudah terangkat?
Belum! Oh begitu. Hal senada, apa pekerjaannya? Guru! Sudah terangkat? Yah sudah!
Alhamdulillah.
Pertanyaan yang sama di
atas, melahirkan dua jawaban dan penghargaan yang berbeda. Jika posisi ke-guru-annya
telah dinegrikan maka antusias ceritapun berlanjut. Tapi jika yang terjadi
sebaliknya “honor” maka kenyataan sambutan psikologis pun tampil berbeda. Apatah
lagi jika yang bersangkutan memang kurang fleksibel dalam hal
komunikasi.
Hal lain bahwa, tidak
jarang guru honor diperlakukan “sesuka hati” oleh guru yang telah berada di
luar lingkaran itu. Mereka cenderung dituntut untuk bisa tampil perfect
dalam berbagai sektor, baik dalam hal proses belajar mengajar,
administrasi, maupun tugas-tugas lainnya. Untung baik
jika yang bersangkutan memang multi talent, jika tidak maka resikonya adalah “gigit
jari dengan kukunya”.
Saya teringat dengan
ceritera tentang seorang guru honor yang dengan tulus mengabdikan diri pada sekolah
tertentu di sebuah daerah. Sosok guru honor ini selalu tampil bersahaja
dan apa adanya. Ia sangat fobia menggunakan simbol-simbol formal saat hendak
menunaikan tugas belajar mengajarnya. Ia tergolong guru honor yang superaktif
dan kreatif. Sekat antara guru-siswa berhasil ia cairkan. Para siswa-siswanya pun
sangat senang dengan kehadirannya. Yah, tidak sebagaimana guru lazimnya. Ia membuktikan
eksistensinya sebagai guru yang disenangi dengan cara sering terlambat masuk mengajar. Hebatnya karena pada setiap kejadian tersebut, para siswa-siswanya selalu datang ke
rumahnya untuk memanggil dan mengingatkannya.
Suatu ketika, ia diberi
tugas untuk mengawal beberapa kegiatan lomba antar sekolah sederajat. Walhasil ia
pun sukses menunaikan tanggung jawabnya dengan sempurna. Beberapa sovenir
berhasil ia tenteng pulang. Dari medali perak, perunggu, dan emas, sukses ia
persembahkan. Ironisnya karena pada moment penyambutan yang dikemas secara wah
di sekolahnya, justru ia memilih untuk tidak hadir. Alasannya sederhana, katanya "aku tidak pantas untuk itu, biarlah para murid-murid itu yang diapresiasi,
sebab memang harus demikian adanya untuk dunia seusianya".
Seiring dengan perjalan
waktu, ia memilih istirahat sejenak untuk tidak masuk mengajar. Ia menyampaikan
kepada siswa-siswanya akan hal tersebut, tapi tidak pada mitra mengajar dan
kepala sekolahnya. Baginya bahwa, tanggung jawab mengajar itu hanya pada siswa,
jadi jika tidak sempat masuk maka seyogyanya izin dari mereka harus didapat. Strategi
defendensinya berhasil, kepala sekolahnya pun senantiasa mendatangi rumahnya
agar cepat-cepat kembali masuk mengajar karena para siswa “bergentayangan”
tanpa kehadirannya.
Singkat cerita bahwa,
dari sekian banyak strategi pembelajaran yang ia terapkan, bisa dikata telah
berhasil menoreh beragam prestasi di sekolahnya. Proses belajar mengajar tidak
hanya ia terapkan di sekolah, saat malam hari pun ia tetap di kerumuni oleh
para siswanya untuk belajar. Hal menarik lainnya ialah, saat keluar main di
sekolahnya, ia sama sekali tidak pernah ditemukan duduk santai di kantor
bersama jajaran guru lainnya. Ia malah selalu asyik bermain bersama dengan
siswa-siswanya. Sang honorer ini betul-betul telah memberi sentuhan baru dalam
dunia pendidikan.
Tapi sayang seribu
sayang, setelah pergantian rezim kepemimpinan di sekolah tempat ia mengajar. Ia malah memilih keluar dari sekolah. Ia tidak sepakat dengan sistem kakuh yang
diterapkan oleh pucuk pimpinan barunya. siswa-siswa bahkan orang tua siswapun
banyak yang menangisi dan menyesali keputusan sang guru honor tersebut. Mereka satu
persatu datang menghampiri, membujuk dan memintanya untuk kemabali mengajar. Tapi
jawabannya cukup singkat “saya mau istirahat dari sekolah tapi tidak untuk
mengajar”. Rumah saya selalu terbuka kepada siapapun yang mau berbagi
pengalaman dan ilmu.
Cerita di atas
melukiskan kisah horor guru honor. Ketulusan dan idealisme mereka tak jarang
berbenturan dengan realitas kebijakan sepihak. Tapi karena guru honor di
atas adalah bukan tipologi pencari popularitas, maka dengan sendirinya memberi
wahana perenungan baru bagi para pelaku pendidikan yang lain.
Dari ceritera tersebut,
seyogyanya stigma, labeling, penamaan guru PNS dan honor bisa diretas. Mereka harusnya
diposisikan sebagai sama-sama pelaku pendidikan, tidak kemudian menghakimi
mereka “honorer” dengan mata sepihak, sebab tak jarang mereka memiliki
kemampuan yang jauh lebih hebat dari pada yang telah dilegalisasi secara
struktural.
Wallahu a’lam
bisshawab.
0 comments:
Post a Comment