Triologi Metafisika Rumi

Wednesday, December 9, 2015 Labels:


Ajaran-ajaran Rumi, pada dasarnya dapat dirangkum dalam triologi metafisik, yaitu  Tuhan, Alam dan Manusia.[1]
1.      Ajaran Maulana Rumi tentang Tuhan
Gagasan Rumi terkait dengan persoalan ke-Tuhan-an terinspirasi dari pernyataan Al-Quran sendiri yang menyatakan bahwa Tuhan adalah “Yang Awal, Yang Akhir, Yang Lahir, Yang Batin”.[2] Tuhan “Yang Awal” bagi Rumi, berarti bahwa Ia adalah sumber yang dari-Nya segala sesuatu berasal. Tuhan sebagai “Yang Akhir” diartikan sebagai tempat kembali segala yang ada di dunia ini. Hal yang menarik dari Dia ialah pandangannya tentang Tuhan itu sebagai keindahan sehingga menjadi tujuan dari semua jiwa yang mencinta.[3]

 
Tuhan sebagai “Yang Lahir”, bagi Rumi  dunia yang lahir adalah fenomena yang dibaliknya terselip pesan akan realitas sejati, artinya bahwa dunia yang lahir merupakan petunjuk bagi adanya yang batin karena keduanya adalah dua hal yang saling terkait, maka dari itu Ia mempertegas bahwa tidak mungkin ada yang lahir tanpa ada yang batin, dan yang lahir merupakan jalan menuju realitas yang tersembunyi di dalamnya.
Dengan demikian, Tuhan sebagai “Yang Batin”, adalah realitas yang lebih mendasar, sekalipun untuk dapat memahaminya dibutuhkan mata lain yang lebih peka/tajam. Jadi tidak semua orang dapat melihat kecantikan Tuhan yang tersembunyi di balik fenomena alam. Kebanyakan kita adalah pemerhati fenomena dan karena itu tidak bisa melihat keindahan batin yang tersembunyi di balik fenomena lahiriah alam.
2.      Konsep Rumi tentang alam semesta
Menurut Rumi bahwa motif penciptaan alam oleh Tuhan adalah cinta. Cintalah yang telah mendorong Tuhan mencipta alam, sehingga cinta Tuhan merembas, sebagai napas Rahmani, kepada seluruh partikel alam lalu menghidupkannya.[4] Alam bukanlah benda mati, melainkan ia hidup dan berkembang, bahkan juga memiliki kecerdasan, sehingga mampu mencintai dan dicintai, berkat sentuhan cinta Tuhan, ia menjadi makhluk yang hidup, bergerak penuh energi kearah Tuhan sebagai yang Maha baik dan Sempurnah. Dalam salah satu syairnya, Rumi pernah menggambarkan hubungan langit dan bumi seperti sepasang suami-istri.[5]


3.      Konsep Rumi tentang manusia
Rumi memandang manusia sebagai tujuan penciptaan alam, sehingga itu pula yang menjadi penyebab kenapa kemudian manusia memiliki posisi yang sangat istimewa kaitannya dengan alam maupun dengan Tuhan. Kaitannya dengan Tuhan, manusia menempati posisi yang tinggi sebagai wakil-Nya di muka bumi.
Hal lain yang menarik dari Rumi kaitannya dengan manusia adalah sifat kebebasan memilih yang merupakan prasayarat bagi perkembangan dan aktualitas diri manusia itu sendiri.[6] Menurutnya bahwa manusia lahir tidak dalam keadaan sempurna, tapi ia dibekali dengan sejuta potensi dan untuk mengaktualkan hal tersebut manusia membutuhkan kebebasan dalam memilih. Dengan kebebasan inilah manusia dapat mencapai titik kesempurnaannya sebagai insan kamil. Tapi dengan kebebasan ini pula, manusia memiliki resiko yang besar untuk mejadi makhluk terendah, yaitu ketika dia menuruti hawa nafsunya.[7]
Selain itu, Manusia juga memiliki kemampuan untuk memahami sesuatu atau dengan kata lain mampu memiliki ilmu pengetahuan. Pengetahuan manusia bertingkat-tingkat sesuai dengan alat yang digunakan untuk tujuan itu. Ada pengetahuan indrawi, pengetahuan yang didasarkan penalaran akal, dan pengetahuan melalui persepsi spiritual (intuisi).


[1] Sri Muliyani, Op.cit., h. 326.
[2] Muliadi Karta Negara, Jalal al-Din Rumi : Guru Sufi, Penyair Agung, (Cet.I; Jakarta : Teraju, 2004), h. 27. dan  QS. 57 : 3.
[3] Muhammad Iqbal, The Development of Metaphysic in Persia, (London: Luzac & Co. Ltd., 1908), h. 113.
[4] Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam; Menembus Batas Waktu, (Cet. II; Bandung : Mizan, 2005), h. 26.
[5]Sri Mulyani, Op.cit., h. 328.
[6] Mulayadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam; Menembus Batas Waktu., Op.cit., h.27.
[7] Ibid., h. 28.

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone