Ajaran-ajaran
Rumi, pada dasarnya dapat dirangkum dalam triologi metafisik, yaitu
Tuhan, Alam dan Manusia.[1]
1. Ajaran Maulana Rumi tentang Tuhan
Gagasan Rumi
terkait dengan persoalan ke-Tuhan-an terinspirasi dari pernyataan Al-Quran
sendiri yang menyatakan bahwa Tuhan adalah “Yang Awal, Yang Akhir, Yang Lahir,
Yang Batin”.[2] Tuhan
“Yang Awal” bagi Rumi, berarti bahwa Ia adalah sumber yang dari-Nya segala
sesuatu berasal. Tuhan sebagai “Yang Akhir” diartikan sebagai tempat kembali
segala yang ada di dunia ini. Hal yang menarik dari Dia ialah pandangannya
tentang Tuhan itu sebagai keindahan sehingga menjadi tujuan dari semua jiwa
yang mencinta.[3]
Tuhan sebagai
“Yang Lahir”, bagi Rumi dunia yang lahir adalah fenomena yang dibaliknya
terselip pesan akan realitas sejati, artinya bahwa dunia yang lahir merupakan
petunjuk bagi adanya yang batin karena keduanya adalah dua hal yang saling
terkait, maka dari itu Ia mempertegas bahwa tidak mungkin ada yang lahir tanpa ada yang batin, dan yang lahir
merupakan jalan menuju realitas yang tersembunyi di dalamnya.
Dengan
demikian, Tuhan sebagai “Yang Batin”, adalah realitas yang lebih mendasar,
sekalipun untuk dapat memahaminya dibutuhkan mata lain yang lebih peka/tajam.
Jadi tidak semua orang dapat melihat kecantikan Tuhan yang tersembunyi di balik
fenomena alam. Kebanyakan kita adalah pemerhati fenomena dan karena itu tidak
bisa melihat keindahan batin yang tersembunyi di balik fenomena lahiriah alam.
2. Konsep Rumi
tentang alam semesta
Menurut Rumi bahwa motif
penciptaan alam oleh Tuhan adalah cinta. Cintalah yang telah mendorong Tuhan
mencipta alam, sehingga cinta Tuhan merembas, sebagai napas Rahmani, kepada
seluruh partikel alam lalu menghidupkannya.[4]
Alam bukanlah benda mati, melainkan ia hidup dan berkembang, bahkan juga
memiliki kecerdasan, sehingga mampu mencintai dan dicintai, berkat sentuhan
cinta Tuhan, ia menjadi makhluk yang hidup, bergerak penuh energi kearah
Tuhan sebagai yang Maha baik dan Sempurnah. Dalam salah satu syairnya, Rumi pernah menggambarkan hubungan langit dan bumi seperti
sepasang suami-istri.[5]
3. Konsep Rumi
tentang manusia
Rumi memandang
manusia sebagai tujuan penciptaan alam, sehingga itu pula yang menjadi penyebab
kenapa kemudian manusia memiliki posisi yang sangat istimewa kaitannya dengan
alam maupun dengan Tuhan. Kaitannya dengan Tuhan, manusia menempati posisi yang
tinggi sebagai wakil-Nya di muka bumi.
Hal lain yang
menarik dari Rumi kaitannya dengan manusia adalah sifat kebebasan memilih yang
merupakan prasayarat bagi perkembangan dan aktualitas diri manusia itu sendiri.[6]
Menurutnya bahwa manusia lahir tidak dalam keadaan sempurna, tapi ia dibekali
dengan sejuta potensi dan untuk mengaktualkan hal tersebut manusia membutuhkan
kebebasan dalam memilih. Dengan kebebasan inilah manusia dapat mencapai titik
kesempurnaannya sebagai insan kamil. Tapi
dengan kebebasan ini pula, manusia memiliki resiko yang besar untuk mejadi
makhluk terendah, yaitu ketika dia menuruti hawa nafsunya.[7]
Selain itu, Manusia juga memiliki kemampuan untuk
memahami sesuatu atau dengan kata lain mampu memiliki ilmu pengetahuan.
Pengetahuan manusia bertingkat-tingkat sesuai dengan alat yang digunakan untuk
tujuan itu. Ada pengetahuan indrawi, pengetahuan yang didasarkan penalaran
akal, dan pengetahuan melalui persepsi spiritual (intuisi).
[1] Sri Muliyani, Op.cit., h. 326.
[2] Muliadi Karta Negara, Jalal al-Din Rumi : Guru Sufi, Penyair
Agung, (Cet.I; Jakarta : Teraju, 2004), h. 27. dan QS. 57 : 3.
[3] Muhammad Iqbal, The Development of Metaphysic in Persia, (London:
Luzac & Co. Ltd., 1908), h. 113.
[4] Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam; Menembus Batas
Waktu, (Cet. II; Bandung : Mizan, 2005), h. 26.
[6] Mulayadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam; Menembus Batas
Waktu., Op.cit., h.27.
[7] Ibid., h. 28.
0 comments:
Post a Comment