Proses pemilu serentak yang terjadi di beberapa daerah, tentu saja mengundang perhatian dari berbagai kalangan, dari yang memang betul-betul pakar dan ahli dibidang politik, hingga yang berpura-pura atau seolah-olah pakar. Kemunculan mereka pun dilandasi dengan berbagai macam tendensi. Dari yang betul-betul ingin melihat proses demokrasi ini semakin matang hingga yang hanya sekedar numpang lewat dengan umpan.
Wacana "politik" dari dahulu hingga saat ini memang selalu tampil seksi untuk diperbincangkan. Posisinya bukan hanya karena menyangkut perebutan ruang dan kuasa, tapi jauh dari itu juga menyerta sikap "pragmatis" yang berorientasi dill dan duit. Pada hal kedua, saya ibaratkan dengan sebuah karakter yang menyerupai salah satu binatang melatah "lintah".
Yah saya umpamakan melatah karena memang khasnya selalu latah dengan keadaan-keadaan yang stabil dan tenang. Tidak menyukai tantangan apalagi berhadapan dengan rintangan. Para pemain zona ini hanya memikirkan ego individu dan bersifat kekinian. Alih-alih peduli dengan nasib suatu bangsa atau daerah, kondisi kekerabatan dan kekeluargaan pun kadang tak dihiraukan sebab yang terpenting adalah kepuasan biologis temporal.
Kita bisa melihat karakter ini dengan beberapa indikator sebagaimana yang ditampilkan oleh Lintah, yakni:
- Lintah berseliwerang saat musim hujan karena memang cenderung mencari tempat basah
- Lintah dapat hidup di darat, air tawar, dan air asin
- Lintah akan menyergap setiap hewan berdarah dan termasuk manusia yang lewat di dekatnya
- Lintah mengisah darah siapapun yang dihinggapi
- Lintah akan menjatuhkan diri saat merasa kekenyangan
- Pemilik karakter ini bermunculan saat hujan momentum politik praktis (pilkada, pilleg, pilgub, dan pilpres). Mereka akan senantiasa mencari tempat-tempat basah yang mereka bisa yakinkan. Dengan sedikit skill negoisasi dan skema gerakan mereka bereaksi.
- Keberadaannya tidak memperhatikan aspek legal formal (yuridis struktural maupun etik teologikal), kesemuanya itu tak penting baginya. Darat, air tawar, dan air asin sama sekali bukan soal sebab yang terpenting adalah bisa hidup disitu.
- Dengan keadaan seperti itu, pemilik karakter ini cenderung menyergap mangsa yang kurang kritis dan cenderung pragmatis dalam pertarungan
- Setelah yang bersangkutan berhasil di mainkan, maka ia kemudian akan menghisap pundi-pundi semaksimal yang bersangkutan untuk dimanfaatkan demi kepentingan dirinya.
- Setelah haja bejat tersebut berhasil ditunaikan maka ia akan menjauhkan diri. Tidak jadi soal apakah yang bersangkutan menang atau kalah, terpuruk atau bangkit, sebab yang terpenting adalah perut kenyang.
- Bagi para kompetitor atau keluarga, dan sahabat-sahabatnya, bekali diri dengan kemampuan kritis dalam hal penelaahan karakter sebelum menjalin kerja sama dengan siapapun
- Pahami trackrecord siapapun yang datang menawarkan bantuan ke anda
- Buat skema untuk memetakan dan mengevaluasi kinerja setiap individu atau kelompok yang tergabung
- Jangan segan-segan menutup ruang jika menemukan karaker seperti ini, sebab jika tidak maka sama halnya jika kita melanggengkan kebiadaban dalam percaturan politik.
0 comments:
Post a Comment