Idealitas Rapuh

Thursday, December 11, 2014 Labels:


Terbentang sejarah yang cukup panjang, mengukir kisah tentang beragam fakta gerakan intelektual, tak kenal usia dan masa, lelaki, perempuan, muda dan tua semua terlibat. Di balik yang pasif, ada yang aktif, yang pasti terlibat, paling tidak (diam-diam) sebagai penyokong salah satu warna.

Ironi….yang tua kadang keliru dan memposisikan diri seolah tau segala hal, hingga yang mudahpun jadi jajalan paradigma, mereka jadi lahan-lahan empuk tuk ditanami, lalu disirami dengan air manja. Akibatnya, lahir generasi gagap, menyelasikan masalah tak mampu tanpa yang tua, karena memang yang tua kadang hanyut dengan curhat yang muda, atau bahkan memang itulah yang bisa dilakukan tuk mempertahankan “ketokohan”. Resolusi hidup pun tak berdialektik, semua terlanjur tunduk pada cara kerja dan metodologi yang tua.

Jika kelak saatnya tiba, dimana kecengengan yang mudah tak mampu lagi ditolerir, maka muncullah sikap aneh sang tua, stigma “kader gagal, yunior tak bisa diandalkan” dan  lain-lain (sena’if itukah???). Dan lagi-lagi jika saatnya telah tiba, dimana yang mudah telah tersadarkan oleh naluri kemerdekaannya, maka ada kemungkinan mereka akan balik melawan, menantang, atau bahkan menyerang. Bisa juga ia lari lalu memili tua-tua baru, dan menggadai diri tuk bertahan hidup.
Kelak jangan heran jika hidup terlanjur dibanjiri oleh air liur, sebab hanya itu pusaka yang di wariskan..dan kenyataan itu memilukan jika dihuni oleh para pelaku gerakan intelektual

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone