Terbentang sejarah yang
cukup panjang, mengukir kisah tentang beragam fakta gerakan intelektual, tak
kenal usia dan masa, lelaki, perempuan, muda dan tua semua terlibat. Di balik
yang pasif, ada yang aktif, yang pasti terlibat, paling tidak (diam-diam) sebagai
penyokong salah satu warna.
Ironi….yang tua kadang
keliru dan memposisikan diri seolah tau segala hal, hingga yang mudahpun jadi
jajalan paradigma, mereka jadi lahan-lahan empuk tuk ditanami, lalu disirami
dengan air manja. Akibatnya, lahir generasi gagap, menyelasikan masalah tak
mampu tanpa yang tua, karena memang yang tua kadang hanyut dengan curhat yang
muda, atau bahkan memang itulah yang bisa dilakukan tuk mempertahankan
“ketokohan”. Resolusi hidup pun tak berdialektik, semua terlanjur tunduk pada
cara kerja dan metodologi yang tua.
Jika kelak saatnya
tiba, dimana kecengengan yang mudah tak mampu lagi ditolerir, maka muncullah
sikap aneh sang tua, stigma “kader gagal, yunior tak bisa diandalkan” dan lain-lain (sena’if itukah???). Dan lagi-lagi
jika saatnya telah tiba, dimana yang mudah telah tersadarkan oleh naluri
kemerdekaannya, maka ada kemungkinan mereka akan balik melawan, menantang, atau
bahkan menyerang. Bisa juga ia lari lalu memili tua-tua baru, dan menggadai
diri tuk bertahan hidup.
Kelak jangan heran
jika hidup terlanjur dibanjiri oleh air liur, sebab hanya itu pusaka yang di
wariskan..dan kenyataan itu memilukan jika dihuni oleh para pelaku gerakan
intelektual
0 comments:
Post a Comment