Malam ini kembali aku ditakjubkan dengan sebuah
berita, tentang seorang ibu yang begitu tegar dan tulus mendampingi anaknya.
Dikabarkan bahwa, seorang ibu tersebut mendapat jamuan makan malam oleh salah
seorang sanak karibnya, dan tanpa berpikir panjang karena tak ingin
mengecewakan, atau paling tidak demi menghargai menu yang disajikan untuknya.
Ia kemudian memboyong anaknya yang berumur kurang lebih 9 bulan untuk terlibat
menyaksikan (maklum belum makan nasi) malam istimewa itu. Ibu tersebut lalu
mengamankan anaknya dikereta mainannya, agar tidak mengganggu kekhusyu’annya
dalam menikmati rezki Tuhan yang dihidangkan dihadapannya. Sebelah tangannya
(kanan) dengan taksim menikmati menu yang ada dihadapannya bersama sanak
karibnya, dan sebelah tangannya lagi (kiri) ia manfaatkan untuk memegang kereta
anaknya agar tetap berada disampingnya.
Yah, sebuah pelajaran sederhana yang ingin diajarkan
keanaknya, tidak melalui kata, tapi dengan perbuatan/tindakan nyata, cara makan
asimilatif (ala islamik dan istiadat lokalis). Memang seperti itulah cara ia
selaku ibu dalam mendidik anaknya selama ini, yakni melibatkannya (sekalipun
baru lewat kereta dan pangkuan) baik dalam hal diskusi ataupun saat ia
mengerjakan rutinitasnya selaku ibu rumah tangga dan pengajar.
Diselah kekhusyu’an menyantap aneka makanan yang
disuguhkan, tiba-tiba anaknya mengirim pesan singkat lewat sinyal vocal yang
belum menampakkan lafal. Yah suara tangis anaknya memecah keheningan, bak
sendok yang mendempak mangkuk, konsentrasi ibu tersebut seketika buyar. Ia
kemudian bergegas menghabiskan makanan yang tersisah di piringnya, tanpa
menghiraukan “cara mengunyah yang tepat” dari para ahli medis, lalau bergegas
menggendong bayi mungilnya. Spontan sang bayi berhenti dari tangisnya, lalu
tersenyum lirih melihat ibu yang mendekapnya.
Satu lagi pelajaran penting yang saya dapatkan di
malam ini, yah lagi-lagi soal “ketakjuban” atas kasih sayang seorang ibu yang
begitu tulus, hingga harus mengorbankan rasa laparnya yang belum juwa terjawab
demi anaknya, tentang pengebirian atas kesehatan sendiri demi bayinya. Dari
peristiwa itu ia hanya berharap satu hal, ingin menjadi ibu yang betul-betul berhikmat
pada amanah Sang Khalik yang dititip kepadanya.
Makassar, 1 September 2013.
0 comments:
Post a Comment