Memahami karakteristik
pemikiran Mullah Shadra bukan merupakan hal yang mudah dan sederhana, hal ini
disebabkan karena komplek dan dalamnya pemahaman beliau entah itu dibidang
filsafat, irfan, teologi, fikih dan lain-lain. Meski demikian, tetap merupakan
suatu keharusan sebagai kerangka awal dalam memahami pemikiran beliau terkait
dengan persoalan-perosalan irfan/tasawuf ialah menelaah sumber-sumber
pemikirannya.
Menurut Jalaluddin
Rahmat sebagai mana yang dikutip oleh A. Khudori Soleh,[1]
bahwa Sadra mengambil filsafat pra-Sokrates hingga berbagai pemikiran yang
hidup pada zamannya. Meski demikian, hanya terdapat tiga tokoh yang benar-benar
berpengaruh dan menjadi pondasi bagi sistem pemikirannya, yaitu :
1. Pemikiran
Ibnu Sina (980-1037 M), pemikiran beliau yang terkait dengan pesoalan realitas
wujud dan kelemahan esensi. Namun demikian, proporsionalitas intelektual Sadra
tetap ditonjolkan dengan kritiknya terhadap soal epistemologi Ibnu Sina yang
menolak kesatuan absolute antara subjek dan objek yang diketahui.
2. Pemikiran
Iluminasi Suhrawardi (1153-1191 M) khususnya gagasannya tentang jenjang cahaya
yang mengilhami Sadra untuk menolorkan gagasan tentang tasykik al-wujud (gradasi wujud), bahwa meski realitas ini tunggal
tetapi muncul dalam berabgai tingkat intensitas dan manifestasi.
3. Pemikiran
Ibnu Arabi (1165-1240 M), yang diambil Sadra dari tokoh ini adalah soal tiga
isu penting filsafat islam, non-wujud esensi, realitas sifat-sifat Tuhan, dan
peran eskatologi-psikologis alam citra.
Mengawali paradigma
orisinilnya, Mulla Shadra membagi persepsi keadalam empat jenis, yaitu persepsi
indera, imajinasi, penilaian dan akal, namun kemudian Sadra merangkumnya
menjadi tiga jenis saja berdasarkan pembagian wujud, yakni alam indrawi, alam
ide dan alam akal. persepsi indra didasarkan pada sifat pisik dimana yang
mempersepsi memahami realitas pisik dengan segala karakteristiknya yang terikat
pada waktu, ruang, kualitas, dan kondisi-kondisi. Namun apa yang hadir pada
yang memahami hanyalah gambaran dari yang dipahami dan bukan realitas pisik
yang sebenarnya. Dalam hal ini, gambaran-gambaran yang dibuat di dalam persepsi
indra adalah abstraksi yang tidak sempurna dari karakteristik-karateristik
pisik.[2]
Tahap persepsi
berikutnya setelah persepsi indera ialah persepsi imajinasi. Dalam tahap ini,
pikiran manusia menyimpan suatu gambaran dari bentuk yang dipahami melalui
persepsi indra. Gambaran ini akan terus tersimpan bahkan ketika objek yang
dipahami itu sudah putus.
Pada tahap persepsi
penilaian, pikiran membuang semua sifat-sifat pisik gambaran yang dipahami.
Gambaran yang dibuat oleh pikiran pada tahap ini tidak bisa dihubungkan dengan
apapun kecuali dengan realitas individual atau realitas partikular dari yang
dipahami.
Tahap terakhir dari
persepsi menurut Shadra ialah persepsi akal, pada tahap ini pikiran membuang
semua sifat-sifat objek (termasuk singularnya). Setelah itu gambaran yang
dipersepsi tadi menjadi konsep umum yang dapat dinisbatkan bukan hanya kepada
yang dipahami yang telah dirasakan secara aktual, tetapi juga kepada
contoh-contoh lain yang mempunyai
kesamaan umum dengan objek yang dipahami tersebut. Inilah tahapan untuk
abstraksi yang sempurna dan mutlak bagi gambaran-gambaran yang dipahami.[3]
Memahami karakter
paradigma Shadra tersebut, setidaknya akan memberikan gambaran dalam memahami
pemahaman sufistik Mulla Shadra sebagaimana yang akan penulis uraikan
sebagaimana yang tertuang dalam karya agungnya yang berjudul “Al-Asfar al-Arba’ah”. Dalam bukut
tersebut Mulla Shadra membagi empat rute perjalalan manusia, yaitu sebagai
berikut :
1. As-safar min al-khalq ila al-Haq (perjalanan
dari makhluk ke Tuhan)
Dalam tahap pertama ini seseorang
harus berjalan dengan meninggalkan alam materi menuju mitsal (idea), dan dari
alam mitsal menuju alam akal (intelgensia), serta dari alam akal menuju alam
al-Haq. Maksud dari meninggalkan yang dimaksudkan disini ialah meninggalkan
dalam hati, artinya rasa suka dan senang
kepada selian Allah dihilangkan dari hati sehingga hati menjadi bersih dari selain Allah.
Manusia boleh makan, minum,
bertempat dan lain-lain, namun hati harus dihampakan dari semua itu sehingga
keluar dari sentuhan materi. Setelah itu barulah manusia berhak memasuki alam
mitsal, alam dimana seluruh rahasia alam materi baik yang telah terjadi maupun
yang akan terjadi. Namun demikian, untuk meninggalkan alam ini, maka manusia harus membersihkan hatinya dari
sentuhan-sentuhan suka kepada segala keajaiban dan kenikmatan yang ada di
dalamnya.[4]
Syuhud, mukasyafah, karamah,
mengerti rahasia alam materi, semua itu mesti dipandang sebagai cobaan, bukan
dipandang sebagai pemberian mutlak, sebab itulah yang disebut hujubah al-nur (hijab-hijab dari
cahanya) yang berada dibalik materi.
Jika seorang hamba mampu melepaskan
rasa sukanya kepada semua itu ia akan segera memasuki tahapan akhir dari
perjalanan pertama ini, yaitu memasuki alam akal. Alam inilah yang dijuluki
dengan jannatu al-Muqarrabin (surga
orang-orang yang beriman). Kelezatan ala mini tidak ada bandingannya lagi,
namun seorang pesuluk harus pula meninggalkannya untuk memasuki kelezatan yang
paling hakiki, yiatu washlat (menyatu)
dengan al-Haq.
Kalau seorang hamba mampu melakukan
semua itu dan selamat sampai pada al-Haq maka kala itulah ia telah memenuhi
syarat paling minim untuk disebut sebagai
wali Allah, meskipun pangkat itu baginya tidak penting.
2. As-Safar bi al-Haq fi al-Haq (perjalanan
dengan al-Haq dalam al-Haq)
Pada perjalanan kedua ini seorang
hamba akan melakukan perjalanan yang tidak akan ada batasnya, karena al-Haq
tidak memiliki batas. Disinilah Imam Ali as berkata : “Betapa sedikitnya bekal
dan jauhnya perjalanan”.
Pada segmen ini, seorang hamba
mencoba untuk menelusuri sifat-sifat ilahiah sehingga ketika ia mendapat taufik
maka akan mengetahui semua sifat dan asma-asma Allah. Karenanya disamping fana
dalam zatnya sebagaimana yang tercermin dalam perjalan pertama, juga fana dalam
sifat-sifat dan perbuatannya.
Ada satu hal yang distressing pada
pembahasan ini bahwa fana tidak berarti tiada, tapi seseorang fana artinya
seseorang tidak lagi melihat dirinya, biak zat sifat dan perbuatannya, yang ia
lihat hanyalah zat, sifat dan perbuatan-Nya. Fana dalam zat juga disebut maqam
rahasia (Sir), dan fana dalam sifat serta perbuatan disebut tersembunyi
(khafi). Sedangkan maqam tersembunyinya tersembunyi adalah fananya fana, yakni
ia tidak lagi merasakan keberadaan sebab bagi seorang aulia mengakui keberadaan
sendiri merupakan dosa besar. Karenanya kesadaran pada kefanaan tingkat kedua ini betul-betul harus
ditinggalkan dan perhatian betul-betul tertuju kepada Allah, perhatian yang
seperti ini mengisyaratkan bahwa perjalanan kedua telah berakhir.
3. As-safar min al-Haq fi al-Kalq (perjalanan
dari al-Haq menuju Al-Khalq dengan al-Haq)
Seseorang yang terkurun dalam
keragaman (selain Allah) musti berusaha melepaskan diri dari kurungan tersebut
dan mencoba untuk meraih/menyentuh satu. Maksudnya yakni mencoba meninggalkan
yang aneka ragam untuk dapat mensyuhudi makna satu yang sederhana, dan ketika
ia berhasil berarti ia telah menggapai maqam fana.
Seseroang yang telah sampai
ketingkat fana ini harus berusaha lagi untuk melihat aneka ragam tadi dengan
tetap menjaga kefanaannya, yakni ketika ia mencapai fana berarti ia telah
menjadikan seluruh anggota tubuh dan ruhaninya bersifat ketuhanan. Dengan nafas
dan sifat ke-Tuhanan itulah ia mesti mencoba untuk melihat semua makhluk Tuhan,
yakni alam akal (jabarut), barzakh (mitsal, malakut) dan alam materi (mulk,
nasut) dengan penglihatan Tuhan. Dengan itu ia tidak akan bergeming sedikitpun,
dan rahasia-rahasia yang didapatinya pada ketiga alam itu tidak membuatnya
bangga. Kelezatan bersama Tuhan ini tidak akan membuatnya lengah menelusuri
ketiga alam tersebut, dan dengan kondisi semacam ini maka selesailah perjalanan
yang ketiga.
4. As-Safar bi al-Haq fi al-Khalq (perjalanan
dalam al-Khalq dengan Haq).
Ketiga macam perjalan di atas
merupakan mukaddimah bagi perjalan ke empat ini, khasnya karena dalam
perjalanan terakhir ini hanya berkisar pada makhluk saja namun tetap bersama
al-Haq. Disini dengan mata ilahiah yang digapai senantiasa memperhatikan
makhluk dan rahasia-rahasianya. Seseroang yang sampai ditingkatan ini akan mengerti seluruh
rahasia makhluk, titik mula dan akhirnya, titik awal dan tujuannya serta apa
yang baik dan buruk baginya. Pada posisi inilah dalam pandangan Shadra seorang
manusia diangkat menjadi seorang rasul atau utusan.
Ke empat maqam tersebut disebut
maqam wilayah, khalifah atau insan kamil. Sedang kalau diutus menjadi rasul
maka maqam ini disebut sebagai maqam risalah (kerasulan).
Dari
penjelasan Shadra tersebut, penulis dapat memahami bahwa ia disampaing sebagai
filosof, ulama, teolog, juga sebagai sufi handal yang memiliki kemampuan dalam
menerjemahkan hasil perenungan/perjalanannya dengan asumsi-asumsi rasional yang
sangat memikat.
[1] Khuduri Sholeh, Wacana Baru Filsafat Islam. (Cet. I;
Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), h. 160-161.
[2] Mullah Shadra, Menuju Kesempurnaan, Persepsi dalam
Pemikiran Mulla Shadra, Op.cit., h. 53.
[3] Ibid., h. 54-55.
[4] Hasan Abu Amar, Bab Sketsa
Filsafat, Ringkasan Logika Muslim. (Jakarta
Pusat : CV. Firdaus, 1992), h. 3.
0 comments:
Post a Comment