Pemikiran Irfan Mula Shadra

Wednesday, December 9, 2015 Labels:


Memahami karakteristik pemikiran Mullah Shadra bukan merupakan hal yang mudah dan sederhana, hal ini disebabkan karena komplek dan dalamnya pemahaman beliau entah itu dibidang filsafat, irfan, teologi, fikih dan lain-lain. Meski demikian, tetap merupakan suatu keharusan sebagai kerangka awal dalam memahami pemikiran beliau terkait dengan persoalan-perosalan irfan/tasawuf ialah menelaah sumber-sumber pemikirannya.

 
Menurut Jalaluddin Rahmat sebagai mana yang dikutip oleh A. Khudori Soleh,[1] bahwa Sadra mengambil filsafat pra-Sokrates hingga berbagai pemikiran yang hidup pada zamannya. Meski demikian, hanya terdapat tiga tokoh yang benar-benar berpengaruh dan menjadi pondasi bagi sistem pemikirannya, yaitu :
1.      Pemikiran Ibnu Sina (980-1037 M), pemikiran beliau yang terkait dengan pesoalan realitas wujud dan kelemahan esensi. Namun demikian, proporsionalitas intelektual Sadra tetap ditonjolkan dengan kritiknya terhadap soal epistemologi Ibnu Sina yang menolak kesatuan absolute antara subjek dan objek yang diketahui.
2.      Pemikiran Iluminasi Suhrawardi (1153-1191 M) khususnya gagasannya tentang jenjang cahaya yang mengilhami Sadra untuk menolorkan gagasan tentang tasykik al-wujud (gradasi wujud), bahwa meski realitas ini tunggal tetapi muncul dalam berabgai tingkat intensitas dan manifestasi.
3.      Pemikiran Ibnu Arabi (1165-1240 M), yang diambil Sadra dari tokoh ini adalah soal tiga isu penting filsafat islam, non-wujud esensi, realitas sifat-sifat Tuhan, dan peran eskatologi-psikologis alam citra.
Mengawali paradigma orisinilnya, Mulla Shadra membagi persepsi keadalam empat jenis, yaitu persepsi indera, imajinasi, penilaian dan akal, namun kemudian Sadra merangkumnya menjadi tiga jenis saja berdasarkan pembagian wujud, yakni alam indrawi, alam ide dan alam akal. persepsi indra didasarkan pada sifat pisik dimana yang mempersepsi memahami realitas pisik dengan segala karakteristiknya yang terikat pada waktu, ruang, kualitas, dan kondisi-kondisi. Namun apa yang hadir pada yang memahami hanyalah gambaran dari yang dipahami dan bukan realitas pisik yang sebenarnya. Dalam hal ini, gambaran-gambaran yang dibuat di dalam persepsi indra adalah abstraksi yang tidak sempurna dari karakteristik-karateristik pisik.[2]
Tahap persepsi berikutnya setelah persepsi indera ialah persepsi imajinasi. Dalam tahap ini, pikiran manusia menyimpan suatu gambaran dari bentuk yang dipahami melalui persepsi indra. Gambaran ini akan terus tersimpan bahkan ketika objek yang dipahami itu sudah putus.
Pada tahap persepsi penilaian, pikiran membuang semua sifat-sifat pisik gambaran yang dipahami. Gambaran yang dibuat oleh pikiran pada tahap ini tidak bisa dihubungkan dengan apapun kecuali dengan realitas individual atau realitas partikular dari yang dipahami.
Tahap terakhir dari persepsi menurut Shadra ialah persepsi akal, pada tahap ini pikiran membuang semua sifat-sifat objek (termasuk singularnya). Setelah itu gambaran yang dipersepsi tadi menjadi konsep umum yang dapat dinisbatkan bukan hanya kepada yang dipahami yang telah dirasakan secara aktual, tetapi juga kepada contoh-contoh lain yang mempunyai  kesamaan umum dengan objek yang dipahami tersebut. Inilah tahapan untuk abstraksi yang sempurna dan mutlak bagi gambaran-gambaran yang dipahami.[3]
Memahami karakter paradigma Shadra tersebut, setidaknya akan memberikan gambaran dalam memahami pemahaman sufistik Mulla Shadra sebagaimana yang akan penulis uraikan sebagaimana yang tertuang dalam karya agungnya yang berjudul “Al-Asfar al-Arba’ah”. Dalam bukut tersebut Mulla Shadra membagi empat rute perjalalan manusia, yaitu sebagai berikut :
1.      As-safar min al-khalq ila al-Haq (perjalanan dari makhluk ke Tuhan)
Dalam tahap pertama ini seseorang harus berjalan dengan meninggalkan alam materi menuju mitsal (idea), dan dari alam mitsal menuju alam akal (intelgensia), serta dari alam akal menuju alam al-Haq. Maksud dari meninggalkan yang dimaksudkan disini ialah meninggalkan dalam hati, artinya rasa suka dan senang kepada selian Allah dihilangkan dari hati sehingga hati menjadi bersih dari selain Allah.
Manusia boleh makan, minum, bertempat dan lain-lain, namun hati harus dihampakan dari semua itu sehingga keluar dari sentuhan materi. Setelah itu barulah manusia berhak memasuki alam mitsal, alam dimana seluruh rahasia alam materi baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Namun demikian, untuk meninggalkan alam ini, maka manusia harus membersihkan hatinya dari sentuhan-sentuhan suka kepada segala keajaiban dan kenikmatan yang ada di dalamnya.[4]
Syuhud, mukasyafah, karamah, mengerti rahasia alam materi, semua itu mesti dipandang sebagai cobaan, bukan dipandang sebagai pemberian mutlak, sebab itulah yang disebut hujubah al-nur (hijab-hijab dari cahanya) yang berada dibalik materi.
Jika seorang hamba mampu melepaskan rasa sukanya kepada semua itu ia akan segera memasuki tahapan akhir dari perjalanan pertama ini, yaitu memasuki alam akal. Alam inilah yang dijuluki dengan jannatu al-Muqarrabin (surga orang-orang yang beriman). Kelezatan ala mini tidak ada bandingannya lagi, namun seorang pesuluk harus pula meninggalkannya untuk memasuki kelezatan yang paling hakiki, yiatu washlat (menyatu) dengan al-Haq.
Kalau seorang hamba mampu melakukan semua itu dan selamat sampai pada al-Haq maka kala itulah ia telah memenuhi syarat paling minim untuk disebut sebagai  wali Allah, meskipun pangkat itu baginya tidak penting.
2.      As-Safar bi al-Haq fi al-Haq (perjalanan dengan al-Haq dalam al-Haq)
Pada perjalanan kedua ini seorang hamba akan melakukan perjalanan yang tidak akan ada batasnya, karena al-Haq tidak memiliki batas. Disinilah Imam Ali as berkata : “Betapa sedikitnya bekal dan jauhnya perjalanan”.
Pada segmen ini, seorang hamba mencoba untuk menelusuri sifat-sifat ilahiah sehingga ketika ia mendapat taufik maka akan mengetahui semua sifat dan asma-asma Allah. Karenanya disamping fana dalam zatnya sebagaimana yang tercermin dalam perjalan pertama, juga fana dalam sifat-sifat dan perbuatannya.
Ada satu hal yang distressing pada pembahasan ini bahwa fana tidak berarti tiada, tapi seseorang fana artinya seseorang tidak lagi melihat dirinya, biak zat sifat dan perbuatannya, yang ia lihat hanyalah zat, sifat dan perbuatan-Nya. Fana dalam zat juga disebut maqam rahasia (Sir), dan fana dalam sifat serta perbuatan disebut tersembunyi (khafi). Sedangkan maqam tersembunyinya tersembunyi adalah fananya fana, yakni ia tidak lagi merasakan keberadaan sebab bagi seorang aulia mengakui keberadaan sendiri merupakan dosa besar. Karenanya kesadaran pada kefanaan tingkat kedua ini betul-betul harus ditinggalkan dan perhatian betul-betul tertuju kepada Allah, perhatian yang seperti ini mengisyaratkan bahwa perjalanan kedua telah berakhir.
3.      As-safar min al-Haq fi al-Kalq (perjalanan dari al-Haq menuju Al-Khalq dengan al-Haq)
Seseorang yang terkurun dalam keragaman (selain Allah) musti berusaha melepaskan diri dari kurungan tersebut dan mencoba untuk meraih/menyentuh satu. Maksudnya yakni mencoba meninggalkan yang aneka ragam untuk dapat mensyuhudi makna satu yang sederhana, dan ketika ia berhasil berarti ia telah menggapai maqam fana.
Seseroang yang telah sampai ketingkat fana ini harus berusaha lagi untuk melihat aneka ragam tadi dengan tetap menjaga kefanaannya, yakni ketika ia mencapai fana berarti ia telah menjadikan seluruh anggota tubuh dan ruhaninya bersifat ketuhanan. Dengan nafas dan sifat ke-Tuhanan itulah ia mesti mencoba untuk melihat semua makhluk Tuhan, yakni alam akal (jabarut), barzakh (mitsal, malakut) dan alam materi (mulk, nasut) dengan penglihatan Tuhan. Dengan itu ia tidak akan bergeming sedikitpun, dan rahasia-rahasia yang didapatinya pada ketiga alam itu tidak membuatnya bangga. Kelezatan bersama Tuhan ini tidak akan membuatnya lengah menelusuri ketiga alam tersebut, dan dengan kondisi semacam ini maka selesailah perjalanan yang ketiga.
4.      As-Safar bi al-Haq fi al-Khalq (perjalanan dalam al-Khalq dengan Haq).
Ketiga macam perjalan di atas merupakan mukaddimah bagi perjalan ke empat ini, khasnya karena dalam perjalanan terakhir ini hanya berkisar pada makhluk saja namun tetap bersama al-Haq. Disini dengan mata ilahiah yang digapai senantiasa memperhatikan makhluk dan rahasia-rahasianya. Seseroang yang sampai ditingkatan ini akan mengerti seluruh rahasia makhluk, titik mula dan akhirnya, titik awal dan tujuannya serta apa yang baik dan buruk baginya. Pada posisi inilah dalam pandangan Shadra seorang manusia diangkat menjadi seorang rasul atau utusan.
Ke empat maqam tersebut disebut maqam wilayah, khalifah atau insan kamil. Sedang kalau diutus menjadi rasul maka maqam ini disebut sebagai maqam risalah (kerasulan).
Dari penjelasan Shadra tersebut, penulis dapat memahami bahwa ia disampaing sebagai filosof, ulama, teolog, juga sebagai sufi handal yang memiliki kemampuan dalam menerjemahkan hasil perenungan/perjalanannya dengan asumsi-asumsi rasional yang sangat memikat.


[1] Khuduri Sholeh, Wacana Baru Filsafat Islam. (Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), h. 160-161.
[2] Mullah Shadra, Menuju Kesempurnaan, Persepsi dalam Pemikiran Mulla Shadra, Op.cit., h. 53.

[3] Ibid., h. 54-55.
[4] Hasan Abu Amar, Bab Sketsa Filsafat, Ringkasan Logika Muslim. (Jakarta Pusat : CV. Firdaus, 1992), h. 3.

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone