Pagi itu tampak cerah, tak ada yang mengira jika hujan akan turun. Ketawa gembira, tampak dari para ibu-ibu yang sedang asyik menjemur cengkeh yang baru dipetik. Mereka pada antusias dan saling memberi jalan untuk menggunakan tempat penjemuran yang terbatas. Cengkeh adalah hasil bumi para petani yang perlahan menanjak, komoditi tersebut telah memberi sentuhan baru bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang dulunya hanya dominan menyandarkan hidup pada tetasan air nira.
Disudut bukit Garugae, tampak seorang perempuan setengah bayah, duduk tenang di teras rumahnya yang baru saja selesai dibangun. Ia terlihat asyik dengan secangkir kopi di tangannya, sesekali ia teguk mengiringi pisang goreng buatan anaknya. Tak lama waktu berselang, datanglah seorang lelaki berambut lurus dengan ponik terbelah dua menghampirinya.
Tabe Mak!!! Ijin lelaki itu yang hendak lewat di depannya.
Iye nak, silahkan!!! dengan sedikit menggeser kakinya ke sebelah kiri memberi jalan.
Suasana sudah mulai tampak berbeda. Pemandangan yang indah di pagi hari, kicauan burung-burung yang terbang bebas di angkasa biru, riuh redah suara para penjemur cengkeh, lewat tak terhirau oleh mereka. Diskusi menghayutkannya dalam samudera ilmu yang tak bertepi. Perempuan setengah bayah tersebut, tampak dengan tenang dalam bertutur, mengurai pesan-pesan bijak warisan semesta yang ia dapat dari puncak kesejukan spiritualitas.
Lelaki yang duduk dihadapannya, hanya terlihat diam membisu, menyelami makna dari setiap uangkapan-ungkapan syahdu sang pemilik rahim.
Maafkan aku nak, aku tak bisa melanjutkan pembicaraan ini, lain waktu kita teruskan. Tegas perempuan itu.
Baik Mak, jawabnya mantap.
****
Lelaki itu menuruni tanggah rumah, berjalan menuju puncak Garugae, menikmati kesejukan hembusan angin pagi. Garugae memang menyajikan sejuta misteri bagi para peziarahnya. Jejeran bebatuan yang membentuknya, dari bentangan benteng hingga tempat duduk di atasnya, senantiasa menyisahkan segudang tanya. Posisinya yang tepat berada di puncak bukit, di sekitarnya terapit jurang nan terjal, memaksa pengunjungnya untuk berkata "bagaimana bisa, bukankah di sekeliling megalit ini jurang dan batu (apa lagi batu besar) adanya di dasar jurang?" atau hanya sekedar menyampaikan rasa takjub: Masya Allah, waw....!!!
Bukan hanya para peziarah atau pengunjung, lelaki itupun tampak mengalami hal yang sama. Wajar saja jika setiap kunjungannya, ia selalu menyisahkan waktu untuk berkunjung ke tempat itu.
Di tengah keasyikannya menikmati aroma keindahan pepohonan liar di sekeliling, pemuda itu tiba-tiba di kejutkan oleh hentakan tangan yang bersarang di pundaknya.
Hei...melamun yah?
Spontan lelaki itu berbalik arah. Oh kamu Rul, mau apa kesini?
Tidak, dari tadi saya melihat kamu sendirian disini, jadi yah saya datang temani. Tidak mengganggu kan?
Wah tidaklah.
Mereka lagi-lagi saling mensublimasi ide-ide lewat diskusi seputar tempat itu. Lelaki itu memang progres mencari tau, siapapun yang ditemui di wilayah itu, pasti selalu menggali informasi seputar kampung Garugae tersebut.
Rul apa kau tau mengapa tempat ini disebut garugae? tanya lelaki itu penasaran.
Waduh, pertanyaannya berat nih!!! Jawab Rul.
Lelaki itu mendapat sinyal, sepertinya Rul banyak tau tentang tempat ini. Semoga dia bersedia membukanya. Lelaki itu membatin penuh harap.
Ia lalu memperbaiki posisi, tepat menghadap Rul.
Gini, sebenarnya tempat ini punya banyak nama, bukan hanya Garugae. Hanya saja secara umum orang fahami bahwa tempat ini bernama Garugae. Terus-terus??? Lelaki itu mengejar.
Sebagaimana informasi yang saya dapat dari beberapa orang tua bahwa, selain Garugae, tempat ini juga dinamakan Tana Sitekke, Tanah Rigella, Tana Ancajingeng, Lale' Bata, dan lain-lain.
Rasa penasaran lelaki itu semakin memuncak. Ia kemudian berdiri sejenak memandang di sekitar tempat itu. Tatapannya kosong. Informasi yang diberikan Rul kepadanya membuat rasa penasarannya semakin membuncah.
Waduh...gerimis nih. Ayo balik ke rumah. Pinta Rul.
Lelaki itu pun mengikut, berjalan di tengah kerumunan penduduk yang lagi sibuk mengamankan jemuran cengkehnya. Tak tega lelaki itu melihatnya, ia pun singgah membantu penduduk semampunya.
****
Tak terasa hari sudah siang, lelaki itu pun masih sibuk dengan teka-teki yang menghantui pikirannya. Di bawa kolom rumah Rul, ia memilih duduk sendirian di balai-balai. Sorot matanya tajam menghadap ke Garugae. Tak lama kemudian, perempuan setengah bayah itu kembali menghampirinya. Ia adalah ibunda Rul. Diliat raut mukanya, sepertinya ia juga menyimpan suatu rahasia. Entah apa???
Dari mana nak?
Anu mak, tadi saya dari atas sama Rul, sembari menunjuk ke arah Garugae.
Oh gitu. Jawabnya datar.
Ia pun duduk di samping lelaki itu. Sejenak suasana sempat hening. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Sepertinya kau mencari sesuatu nak??? Tanya perempuan itu.
Lelaki tersebut cepat-cepat memantapkan posisi duduk. Sepertinya ia akan mendapat informasi baru lagi tentang Garugae dari perempuan tersebut.
Ia nih mak. Sejak ayahnya saya almarhum cerita tentang tempat ini ke saya, saya kemudian mulai tertarik menjejakinya. Berharap dari proses ini saya bisa menemukan apa rahasia di balik tempat ini sebenarnya. Jawab lelaki itu mantap.
Perempuan itu menghela napas panjang setelah mendengar jawaban lelaki tersebut.
Senyum mulai merekah di wajahnya yang bersinar bersih.
Saya tau maksud kamu nak, tapi cerita tentang tempat ini tentu butuh waktu panjang. Tegasnya.
Secepat kilat lelaki itu membalikkan posisi menghadap perempuan yang ada di dekatnya.
Saya sebenarnya juga merasa sedih dengan tempat ini nak. Sekiranya orang kebanyakan tau apa di balik ini semua, mereka tentu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab akan memelihara tempat ini layaknya memelihara tubuh sendiri. Tapi sayang, pada umumnya jarang yang tau, akhirnya tempat ini hanya menjadi seperti tempat wisata biasa.
Lelaki itu tampak khusyuk menyelami arti cerita perempuan itu. Sesekali kepala dianggukkan, dan sesekali pula tangannya menyentuh dagu, menyimak penuh konsentrasi.
Sederhananya begini nak, jika kamu memang betul-betul ingin memahami tempat ini, maka pahamilah dirimu sendiri lebih awal. Dari situ kau akan tau rahasia di balik tempat ini.
Spontan lelaki itu menyalami tangan perempuan tersebut, lalu mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga. Paling tidak dengan pesan singkat tersebut, lelaki itu dapat melanjutkan pengembaraan intelektualnya, khususnya mengenai tempat tersebut.
Belum sempat ia meninggalkan tempat duduk, perempuan itu kembali menyamapikan pesan; nak, setiap tempat itu punya nama, dan nama pasti punya sebab, sebab tentu punya asas dan tujuan. Nama adalah isyarat dan jembatan awal bagi kita untuk berjalan, hanya dengan mengenal nama saja tujuan pasti tak tercapai.
0 comments:
Post a Comment