Seorang da'i yang tidak begitu kondang,
Berkunjung ke sebuah tempat yang menurutnya terlarang,
Terlarang karna dijadikan media pemujaan,
Oleh banyak peziarahnya tanpa beban,
Di hari yang hampir petang,
Menjelang magrib ia melintang,
Menerobos di tengah kepulan awan,
Memandang sinis setiap orang yang duduk tanpa beban,
Hai kau pemuja malang,
Bertaubatlah kau sekarang,
Perilakumu naif dimata Tuhan,
Tak direstu utusan pilihan,
Dalam kabut tampak samar seseorang,
Berteriak lantang menantang,
Hai kau da'i yang gagah rupawan,
Berhentilah kau menghakimi orang sebab kami belum tentu lawan,
Tau kah kau bahwa ini tempat terlarang,
Tak direstui pengungjung tanpa selendang,
Selendang kesucian berbalut intan,
Tak sekedar wudhu lalu menghinakan,
Tau kah kau bahwa ini juga tempat sembahyang,
Sebagaimana yang sering dikau bilang,
Sembahlah Tuhanmu dengan penuh keyakinan,
Khusyuk dalam do'a mengharap lirikan,
Tujuan kita sama walau beda cara pandang,
Bijaklah kau jadi orang,
Tuhan tak hanya melihat apa yang kau lakukan,
Tapi juga menimbang kesucian niat dan keikhlasan.
PORBIDDEN PLACE
Sunday, January 31, 2016
Labels:
Sastra
0 comments:
Post a Comment