Kampus Hijau dan Sejuta Kenangan

Wednesday, February 3, 2016 Labels:



Berserak

13 Tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2002, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, setelah sebelumnya dinyatakan lulus di Ujian Nasional Madrasah Aliyah As’adiyah Macanang di tahun yang sama. Kampus Hijau, demikian aku dan teman-teman menyebutnya. Sebuah Perguruan Tinggi swasta yang terletak di Kab. Wajo. STAI As’adiyah Sengkang, demikian nama yang tersemai untuknya.

Berbekal informasi dari beberapa “senior”, niatku mantap, tekadku bulat, berlayar di rahim kampus hijau. Pada proses awal perkuliahan berlangsung, hatiku sempat mendua. Aku merasa tidak sanggup melewati proses awal. Ta’aruf, sebuah nama yang dikhususkan untuk menamai kegiatan perdana kami selaku mahasiswa baru kala itu. Di kampus lain, dengan substansi yang sama, kegiatan ini akrab disebut “ospek”. Meski demikian, tetap terdapat perbedaan esensial antara kedua hal tersebut pada proses perwujudannya.

Ta’aruf di zaman itu, ditampilkan dengan wajah yang garang, khas dengan rambut plontos, pakaian “rapi” menurut standar panitia pelaksana, bentakan dari para senior-senior, dan lain-lain. Di malam pembukaan, tepat pada malam pembacaan tata tertib (tatib), kami selaku peserta diberi ruang untuk terlibat dalam dialog dengan panitia (SC). Aku dengan beberapa teman-teman seperjuangan sejak di Madrasah Aliyah, sekuat tenaga dan kemampuan menolak beberapa aturan yang kami anggap “unhumanis”. Tapi sayang seribu sayang, dengan keterbatasan argumentasi yang kami miliki pada saat itu, akhirnya semua bentuk penolakan argumentatif kami pun tertolak.

Meski kekalahan intelektual masa itu kami terima, tetap saja batin kami merontah, tidak sepakat dengan beberapa aturan. Bentuk penolakan kami kala itu ialah keluar dari ruangan dan memilih untuk berhijrah ke kampus lain. Keesokan harinya, aku bersama dua orang temanku, Amir dan Jhon (demikian sapaan akrabku kepadanya) akhirnya melangkah ke kampus PRIMA (Puang Rimaggalatung), sebuah kampus swasta di daerah yang sama. Di sana kami disambut hangat oleh beberapa cipitas akademik, dan langsung mengikuti proses perkuliahan di hari yang sama. Animo peralihan kami semakin menguat setelah dosen yang mengajari kami di pertemuan perdana tersebut, menjajikan kami bertiga beasiswa. Good bay kampus hijau!!! Gumam kami saat itu.

Sore menjelang, kami kembali menyambangi teman-teman kami yang masih memilih bertahan di kampus hijau. Dari jauh kami mengintip kegiatan mereka, tampak dengan khusyu’ mengikuti setiap tahapan “penderitaan”. Jhon, merasa tidak nyaman jika hanya menyaksikan semua itu dari kejauhan. Dengan penuh percaya diri ia melenggang dan mendekat. Tiba-tiba salah seorang anggota resimen berteriak “Woe, peserta itu”. Serentak Jhon dikerumuni panitia, lalu kemudian dibawa bergabung bersama para peserta lainnya. Amir tak tega melihat Jhon di perlakukan seperti itu, ia pun mendekat dengan maksud membantu Jhon, namun nasib yang sama akhirnya harus ia terima. Upaya untuk menjelaskan proses perpindahan kuliahnya ke kampus PRIMA lagi-lagi tidak mampu menyelamatkannya. Kini tinggal aku sendiri, mereka adalah sahabat baikku. Aku tidak tega melihat mereka berjuang berduaan. Sebuah pilihan dilema kembali menghantui. Turut serta atau bertahan!!! 

Mata hari sebentar lagi memasuki peraduan, tak sabar malam menyapu, lalu menyamarkan kampus hijau. Aku masih bertahan sendirian di kantin kampus. Dengan penuh harap pada keajaiban, semoga kelak kedua sahabatku itu kembali, saling merengkuh dan melanjutkan cerita di kampus PRIMA. Penantian tak bersambut, aku menyaksikan Jhon dan Amir dari kejauhan sudah berubah, rambutnya terlihat acak, wajahnya pucak kusut. Mimpi buruk apa lagi ini. Gumamku. 

Aku berlari menghampirinya, bertanya tentang kabarnya berdua, bertanya tentang jejak yang belum rampung di PRIMA. Mereka rupanya sudah tak bergairah mendengar dan melanjutkan cerita yang terpenggal itu. Sebaiknya kita lanjut disini saja kawan. Pintah mereka berdua kepadaku. 
Sekali lagi, aku tak ingin membuat mereka berdua kecewa denganku. Dan dengan penuh beban, setelah malam tiba, aku menemui ketua OC ta’aruf. Mengibah untuk dapat diterima di kampus ini kemabli. Tak banyak komentar, Khaidar sang paggaligo menyambut penuh kharisma permintaanku tersebut. Malam itu pula kupasrahkan rambut lurusku berjatuhan ke tembok sekretariat panitia.

Empat hari berlalu, hari-hari menyesakkan dada itu akhirnya berlalu. Kamipun dengan resmi dinyatakan lulus pada prosesi ta’aruf. Sebuah proses perkenalan kampus yang sangat menggetarkan, penuh tantangan, dan bahkan air mata.

Hari-hari kami lalui, bersama dengan rekan-rekan mahasiswa kampus hijau, berbaur lintas jurusan, saling mensublimasi ide-ide satu sama lain. Aku pun harus terpisah ruangan dengan Amir dan Jhon, mereka memilih jurusan Syariah, sementara aku nimbrung di barisan para pemikir (akidah filsafat). Teringat dengan ungkapan Jhon, hati-hatilah engkau dalam berpikir sebab jika salah maka aku dan Amir akan menghakimimu.

Pergolakan Wacana

Demi menguatkan jurusan yang aku pilih, aku pun memilih untuk banyak membaca. Salah seorang senior, pecinta dan kolektor buku bacaan terbanyak di zaman itu. Lihin, demikian kami akrab memanggilnya. Aku memilih untuk sering-sering bersentuhan dengannya, disamping karena hasrat ingin mengambil ilmunya, juga karena hendak meminjam buku-buku refrensinya. Untungnya ia bersedia untuk itu. 

Karena merasa tidak puas dengan belajar otodidak, jenuh dengan lembaran-lembaran buku, hendak mengembangkan ilmu yang kuterima dari para dosen. Aku akhirnya memutuskan untuk bergabung di beberapa lembaga ekstra kampus. Ikut basic training di Himpunan Mahasiswa Islam (Hmi), namun karena merasa belum puas, dunia bagiku terlalu sempit hanya diwarnai dengan dua warna “hijau hitam”, akhirnya aku pun juga memilih untuk nimbrung di mapaba Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Persentuhanku dengan dua lembaga ekstra kampus tersebut, memberi warna tersendiri dalam perjalanan dan warna intelektualku.

Ketika sikap kritis atas segala hal mulai terbentuk dan menguasai pikiranku, batas-batas yang dianggap tabuh pun mulai aku pertanyakan, dengan penuh harap mendapat kepuasan intelektual. Malang nasibku, sikap ini justru membuatku semakin terpuruk. Statistik nilai-nilai semesterku jauh dari harapan idealku. Deretan huruf C dan E di beberapa mata kuliah membuat jiwaku kian resah. Aku mulai berpikir tentang orang tuaku di kampung, mulai sangsi dengan masa depan yang kumimpi. Akankah harapan-harapanku akan terkubur dalam kubangan kampus hijau ini??? Entah.

Aku harus bangkit dan memperbaiki semuanya. Dunia luar telah membuatku terseret jauh dari identitasku sebagai mahasiswa kampus biru. Aku ingin perjuanganku di kampus ini berujung lencana, bertabur tawa keluarga, terselimut toga kebesaran. Aku memutuskan untuk mendatangi para dosen, mengurus perbaikan nilai. Satu demi satu dari mereka menyambut baik kedatanganku, meski dengan beragam ujian yang harus kulalui sebagai prasyarat untuk memenuhi harapanku itu.

Perjuanganku memberi sinyal baik, lampu hijau di kampus hijau akhirnya menyala, pihak akademik, dan lebih khusus bapak ketua sekolah tinggi (Drs. H. Yunus Pasanreseng A. Padi, M.Ag) dikala itu, memintaku untuk mengurus dengan serius proses penyelesaian studiku di kampus ini. Dengan maha karya “Teokrasi dan Demokrasi (Tinjauan Filosofis atas Sistem Kepemimpian Islam)” yang berhasil aku pertahankan di depan para penguji ujian munakasyah, akhirnya gelar yang kuimpikan itupun berhasil aku rengkuh.

Dengan diterimanya skripsi tersebut, aku kemudian mulai bersedih hati, sebab dengan itu cerita dan kisah bersama kampus biruku akan segera usai. Dan dengan hal yang sama pula lembaran-lembaran hidup selanjutnya harus aku buka, fight di dunia luar, menjemput senarai-senarai kemilau masa depan. 2007 adalah saksi sejarah atas kedua moment tersebut.

Kampus biru telah berhasil memberiku banyak pengalaman, dari cerita heroisme seorang pemikir dan ulama hingga romantisme cinta berliku tiada tarah. 

Terima kasih kepada para guru-guruku di kampus biru, semoga kelak kita bertemu, merengkuhku dalam hangatnya pelukan cinta kasih “guru-murid atau ayah dan anak”. 

Wallahu wa’lam bisshawab.

0 comments:

Post a Comment

 
Maskur Makkasau © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone