Berserak
13 Tahun yang lalu,
tepatnya di tahun 2002, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi, setelah sebelumnya dinyatakan lulus di Ujian Nasional
Madrasah Aliyah As’adiyah Macanang di tahun yang sama. Kampus Hijau, demikian aku
dan teman-teman menyebutnya. Sebuah Perguruan Tinggi swasta yang terletak di
Kab. Wajo. STAI As’adiyah Sengkang, demikian nama yang tersemai untuknya.
Berbekal informasi dari beberapa “senior”, niatku mantap, tekadku bulat, berlayar di rahim kampus hijau. Pada proses awal perkuliahan berlangsung, hatiku sempat mendua. Aku merasa tidak sanggup melewati proses awal. Ta’aruf, sebuah nama yang dikhususkan untuk menamai kegiatan perdana kami selaku mahasiswa baru kala itu. Di kampus lain, dengan substansi yang sama, kegiatan ini akrab disebut “ospek”. Meski demikian, tetap terdapat perbedaan esensial antara kedua hal tersebut pada proses perwujudannya.
Ta’aruf di zaman itu,
ditampilkan dengan wajah yang garang, khas dengan rambut plontos, pakaian “rapi”
menurut standar panitia pelaksana, bentakan dari para senior-senior, dan
lain-lain. Di malam pembukaan, tepat pada malam pembacaan tata tertib
(tatib), kami selaku peserta diberi ruang untuk terlibat dalam dialog dengan panitia (SC). Aku
dengan beberapa teman-teman seperjuangan sejak di Madrasah Aliyah, sekuat
tenaga dan kemampuan menolak beberapa aturan yang kami anggap “unhumanis”.
Tapi sayang seribu sayang, dengan keterbatasan argumentasi yang kami miliki
pada saat itu, akhirnya semua bentuk penolakan argumentatif kami pun tertolak.
Meski kekalahan
intelektual masa itu kami terima, tetap saja batin kami merontah, tidak sepakat
dengan beberapa aturan. Bentuk penolakan kami kala itu ialah keluar dari
ruangan dan memilih untuk berhijrah ke kampus lain. Keesokan harinya, aku
bersama dua orang temanku, Amir dan Jhon (demikian sapaan akrabku kepadanya)
akhirnya melangkah ke kampus PRIMA (Puang Rimaggalatung), sebuah kampus swasta
di daerah yang sama. Di sana kami disambut hangat oleh beberapa cipitas akademik,
dan langsung mengikuti proses perkuliahan di hari yang sama. Animo peralihan
kami semakin menguat setelah dosen yang mengajari kami di pertemuan perdana
tersebut, menjajikan kami bertiga beasiswa. Good bay kampus hijau!!! Gumam kami saat itu.
Sore menjelang, kami
kembali menyambangi teman-teman kami yang masih memilih bertahan di kampus
hijau. Dari jauh kami mengintip kegiatan mereka, tampak dengan khusyu’ mengikuti setiap tahapan “penderitaan”.
Jhon, merasa tidak nyaman jika hanya menyaksikan semua itu dari kejauhan. Dengan penuh
percaya diri ia melenggang dan mendekat. Tiba-tiba salah seorang anggota
resimen berteriak “Woe, peserta itu”. Serentak Jhon dikerumuni panitia, lalu
kemudian dibawa bergabung bersama para peserta lainnya. Amir tak tega melihat
Jhon di perlakukan seperti itu, ia pun mendekat dengan maksud membantu Jhon, namun
nasib yang sama akhirnya harus ia terima. Upaya untuk menjelaskan proses
perpindahan kuliahnya ke kampus PRIMA lagi-lagi tidak mampu menyelamatkannya. Kini
tinggal aku sendiri, mereka adalah sahabat baikku. Aku tidak tega melihat
mereka berjuang berduaan. Sebuah pilihan dilema kembali menghantui. Turut serta
atau bertahan!!!
Mata hari sebentar lagi
memasuki peraduan, tak sabar malam menyapu, lalu menyamarkan kampus hijau. Aku masih
bertahan sendirian di kantin kampus. Dengan penuh harap pada keajaiban, semoga
kelak kedua sahabatku itu kembali, saling merengkuh dan melanjutkan cerita di
kampus PRIMA. Penantian tak bersambut, aku menyaksikan Jhon dan Amir dari
kejauhan sudah berubah, rambutnya terlihat acak, wajahnya pucak kusut. Mimpi buruk
apa lagi ini. Gumamku.
Aku berlari
menghampirinya, bertanya tentang kabarnya berdua, bertanya tentang jejak yang
belum rampung di PRIMA. Mereka rupanya sudah tak bergairah mendengar dan melanjutkan
cerita yang terpenggal itu. Sebaiknya kita lanjut disini saja kawan. Pintah
mereka berdua kepadaku.
Sekali lagi, aku tak ingin membuat mereka berdua kecewa denganku. Dan dengan penuh beban, setelah malam tiba, aku menemui ketua OC ta’aruf. Mengibah untuk dapat diterima di kampus ini kemabli. Tak banyak komentar, Khaidar sang paggaligo menyambut penuh kharisma permintaanku tersebut. Malam itu pula kupasrahkan rambut lurusku berjatuhan ke tembok sekretariat panitia.
Sekali lagi, aku tak ingin membuat mereka berdua kecewa denganku. Dan dengan penuh beban, setelah malam tiba, aku menemui ketua OC ta’aruf. Mengibah untuk dapat diterima di kampus ini kemabli. Tak banyak komentar, Khaidar sang paggaligo menyambut penuh kharisma permintaanku tersebut. Malam itu pula kupasrahkan rambut lurusku berjatuhan ke tembok sekretariat panitia.
Empat hari berlalu,
hari-hari menyesakkan dada itu akhirnya berlalu. Kamipun dengan resmi
dinyatakan lulus pada prosesi ta’aruf. Sebuah proses
perkenalan kampus yang sangat menggetarkan, penuh tantangan, dan bahkan air mata.
Hari-hari kami lalui,
bersama dengan rekan-rekan mahasiswa kampus hijau, berbaur lintas
jurusan, saling mensublimasi ide-ide satu sama lain. Aku pun harus terpisah
ruangan dengan Amir dan Jhon, mereka memilih jurusan Syariah, sementara aku
nimbrung di barisan para pemikir (akidah filsafat). Teringat dengan ungkapan
Jhon, hati-hatilah engkau dalam berpikir sebab jika salah maka aku dan Amir
akan menghakimimu.
Pergolakan
Wacana
Demi menguatkan jurusan
yang aku pilih, aku pun memilih untuk banyak membaca. Salah seorang senior, pecinta
dan kolektor buku bacaan terbanyak di zaman itu. Lihin, demikian kami akrab
memanggilnya. Aku memilih untuk sering-sering bersentuhan dengannya, disamping
karena hasrat ingin mengambil ilmunya, juga karena hendak meminjam
buku-buku refrensinya. Untungnya ia bersedia untuk itu.
Karena merasa tidak
puas dengan belajar otodidak, jenuh dengan lembaran-lembaran buku, hendak
mengembangkan ilmu yang kuterima dari para dosen. Aku akhirnya memutuskan untuk
bergabung di beberapa lembaga ekstra kampus. Ikut basic training di Himpunan
Mahasiswa Islam (Hmi), namun karena merasa belum puas, dunia bagiku terlalu
sempit hanya diwarnai dengan dua warna “hijau hitam”, akhirnya aku pun juga
memilih untuk nimbrung di mapaba Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Persentuhanku
dengan dua lembaga ekstra kampus tersebut, memberi warna tersendiri dalam
perjalanan dan warna intelektualku.
Ketika sikap kritis
atas segala hal mulai terbentuk dan menguasai pikiranku, batas-batas yang
dianggap tabuh pun mulai aku pertanyakan, dengan penuh harap mendapat kepuasan
intelektual. Malang nasibku, sikap ini justru membuatku semakin terpuruk. Statistik
nilai-nilai semesterku jauh dari harapan idealku. Deretan huruf C dan E di
beberapa mata kuliah membuat jiwaku kian resah. Aku mulai berpikir tentang
orang tuaku di kampung, mulai sangsi dengan masa depan yang kumimpi. Akankah harapan-harapanku
akan terkubur dalam kubangan kampus hijau ini??? Entah.
Aku
harus bangkit dan memperbaiki semuanya. Dunia luar telah membuatku terseret
jauh dari identitasku sebagai mahasiswa kampus biru. Aku ingin perjuanganku
di kampus ini berujung lencana, bertabur tawa keluarga, terselimut
toga kebesaran. Aku memutuskan untuk mendatangi para dosen, mengurus
perbaikan nilai. Satu demi satu dari mereka menyambut baik kedatanganku, meski
dengan beragam ujian yang harus kulalui sebagai prasyarat untuk memenuhi
harapanku itu.
Perjuanganku memberi
sinyal baik, lampu hijau di kampus hijau akhirnya menyala, pihak akademik, dan
lebih khusus bapak ketua sekolah tinggi (Drs. H. Yunus Pasanreseng A. Padi, M.Ag)
dikala itu, memintaku untuk mengurus dengan serius proses penyelesaian studiku
di kampus ini. Dengan maha karya “Teokrasi dan Demokrasi (Tinjauan Filosofis
atas Sistem Kepemimpian Islam)” yang berhasil aku pertahankan di depan para
penguji ujian munakasyah, akhirnya
gelar yang kuimpikan itupun berhasil aku rengkuh.
Dengan diterimanya
skripsi tersebut, aku kemudian mulai bersedih hati, sebab dengan itu cerita dan
kisah bersama kampus biruku akan segera usai. Dan dengan hal yang sama pula
lembaran-lembaran hidup selanjutnya harus aku buka, fight di dunia luar, menjemput senarai-senarai kemilau masa depan. 2007 adalah saksi sejarah
atas kedua moment tersebut.
Kampus biru telah
berhasil memberiku banyak pengalaman, dari cerita heroisme seorang pemikir dan
ulama hingga romantisme cinta berliku tiada tarah.
Terima kasih kepada para guru-guruku di kampus biru, semoga kelak kita bertemu, merengkuhku dalam hangatnya pelukan cinta kasih “guru-murid atau ayah dan anak”.
Terima kasih kepada para guru-guruku di kampus biru, semoga kelak kita bertemu, merengkuhku dalam hangatnya pelukan cinta kasih “guru-murid atau ayah dan anak”.
Wallahu
wa’lam bisshawab.
0 comments:
Post a Comment