Stelah tersandera beberapa rutinitas, hari ini aku memilih untuk kembali ke kampung halaman. Selain karna kangen dengan suasananya yang sejuk, juga karena rindu dengan Ibu yang ditinggal pergi sang ayah sejak 15 tahun silam.
Tak hanya berlubang, jalanan menuju kampungpun penuh tanjakan. Teringat cerita nenek dahulu, saat jalanan ini masih berbatu. Karena tenaganya yang semakin lemah untuk ukuran jalan seperti itu, ia lalu mengajari cucunya untuk membawa kendaraan "Kawasaki RR (Riolopa na Riolo)". Setelah cucunya dianggap lincah mengendalikan motor, ia lalu mengamanahkan tanggung jawab membonceng tersebut kepadanya. Tanpa berpikir panjang, sang cucu menyambut tawaran itu.
Awalnya masih aman-aman saja, tapi pada saat mereka sudah sampai pada inti tanjakan, suara mesin motor tiba-tiba berubah, terkesan mesin hendak mati di jalan. Sang nenek paham dengan suasana tersebut. Ia lalu memberi komando pada cucunya,
Nak, cepat over ke gigi satu.
Ah bagaimana mungkin nek. Jawab cucunya, sambil membantu jalannya motor dengan kaki.
Maksudnya nak?
Bagaimana mungkin saya mau over ke gigi satu nek, gigi tiga saja yang banyak-banyak tidak mampu, apalagi satu. Tegas cucunya.
Praaaakkkk...dialog menegangkan itu akhirnya berujung bencana, kakek beserta cucu dan motornya tergeletak di atas bebatuan jalanan. Untungnya mereka berdua tidak apa-apa.
Tak ingin peristiwa itu berulang, meski kondisi jalan sedikit berbeda pada zaman nenek, tapi paling tidak menurutku pesan nenek masih sangat relevan dengan suasana jalan saat ini. Aku memilih untuk memakai gigi satu saat menghadapi tanjakan, biar kaki dapat dijulur bebas mengambil ancang-ancang. Saya kadang bergumam, mungkin inillah yang dimaksud "motor plus2", artinya naik motor plus jalan kaki, bergoyang tanpa irama.
Demi rindu, semua itu menjadi tantangan bagiku. Aku menganggap itu tak seberapa dibanding pemberian alam Ulungnge dan perjuangan ibuku. Getaran rindu memacuku untuk mengesampingan setiap tantangan di benakku. Melihat senyum ibu jauh lebih penting dari semua itu.
****
Pukul 21.30, tepat aku tiba di rumah, aku mengetuk pintu dengan pelan sembari mengucapkan salam. Tapi yang kudengar hanya jawaban dari tante yang setia bersama ibu. Spontan aku bertanya, mana ibu tante?
Di kamar.Jawabnya singkat.
Aku berdiri sejenak, mungkin ibu sudah beristirahat, apa lagi malam sudah larut. Gumamku.
Tekanan langkah kakiku perlahan aku turunkan, pelan berjalan menuju pintu kamar ibu.
Dari dekat tampak cahaya terang, ah ibu pasti belum tidur, pintu kamarnya masih terbuka.
Assalamu alaikum, salam ke dua kalinya aku ucapkan. Tapi ibu belum juga menjawab.
Bu..bu..sambil terus melangkah menuju kamarnya.
Astagfirullah....rupanya ibu sedang asyik mengendara, di atas sajadah ia menunggang, menembus batas ruang dan waktu.
Inilah kendaraan yang tidak pernah mengalami evolusi sejak zaman Rasulullah Muhammad Saw., tidak seperti kendaraan teknologi saat ini yang terus berkembang, baik dari sisi bodi, maupun dari sisi gir (manual sampai matick). Meski demikian, jangkauannya masih tetap sangat terbatas. Jauh berbeda dengan kendaraan yang diwariskan Baginda Rasul, tak pernah mengalami perubahan jumlah (rakaat; 2,4,4,3,4) dan bentuk (berdiri, rukuk, sujud, dan duduk). Sekalipun demikian, ekspresi dari para pengendaranya terkadang berbeda, layaknya pada saat mengendarai motor atau mobil. Bagiku, itu tidak jadi soal, sebab yang terpenting adalah menunggangi dan menjalankan kendaraan, sebab itu adalah syarat sampainya di tujuan.
Perjalanan menuju Tuhan pun penuh dengan tantangan, gelombang, dan tanjakan. Berhati-hati dan konsentrasi saat berkendara menuju ke sisi-Nya, juga harus disertai dengan kehati-hatian dan penuh konsentrasi. Lubang-lubang kelalaian setiap saat bisa memalingkan perhatian. Bebatuan kerap kali ikut mengancam kesalamatan kekhusyu'an, apatah lagi harus menembus batas ruang dan waktu.
Gambaran ini tentu sangat jauh berbeda dengan jalanan menuju ke kampung halamanku. Tapi paling tidak hal itu memberi pelajaran bagiku, bahwa kampung halaman kita yang sesungguhnya ialah Tuhan. Disanalah kelak semua akan kembali menghadap, memenuhi panggilan kerinduan, atau hanya sekedar memenuhi undangan, tanpa peduli dengan keindahan.
Selain dari itu, memaksa diri dengan ego bertahan pada asumsi, tidak menutup kemungkinan akan membuat kita tergelincir di bebatuan murkanya, hingga ikut menjatuhkan orang yang kita bawa serta. Ada benarnya cerita nenek "jika berhadapan dengan pendakian, mesin terdengar lesuh atau mau mati", bergegaslah melakukan transmisi dari empat ke satu. Inilah pesan Quantum. Membuat lompatan dalam waktu sekejap demi menyelamatkan diri. Dari empat (berdidi, rukuk, sujud, dan duduk) menuju satu (Tuhan).
Wallahu a'lam.
1 comments:
Luar biasa
Post a Comment